Pemerintah dampingi keluarga kurangi waktu layar lewat Asta Mantra

2 weeks ago 10

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) berupaya mendampingi keluarga jadi berkualitas dengan pengurangan waktu screen time (waktu layar) melalui program Asta Mantra Keluarga.

"Asta Mantra ini adalah untuk membangun keluarga di dunia digital ini, yang salah satunya, nomor satu adalah kurangi screen time (waktu layar), perbanyak green time (waktu beraktivitas fisik)," kata Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas dan Keluarga Kemenko PMK Woro Srihastuti Sulistyaningrum dalam Hari Keamanan Berinternet 2026 di Jakarta, Selasa.

Mengutip data Profil Anak Usia Dini Tahun 2025, Woro menyebut sebanyak 41,02 persen anak Indonesia sudah dapat mengakses internet. Jumlah tersebut naik dari 2024 yang semula hanya 35,57 persen.

Baca juga: Nezar minta platform kembangkan solusi cegah manipulasi usia pengguna

Namun, hanya 28,58 persen anak yang mengakses internet didampingi oleh orang tua dan wali sehingga banyak anak terseret dalam kejahatan siber seperti eksploitasi seksual anak di ruang digital.

Lewat data laporan National Center for Missing and Exploited Children (NCMEC) tahun 2024-2025, Woro turut mencontohkan bahwa saat ini Indonesia menduduki peringkat ketiga secara global sebagai negara dengan jumlah konten kasus eksploitasi seksual anak terbanyak, dan peringkat kedua di Asia Tenggara dalam hal kasus serupa.

"Ini adalah tantangan kita saat ini. Bahwa pada saat sebegini mudahnya internet itu terhubung dengan kita, tapi, kemudian orang tuanya tidak menggunakan internet," kata Woro.

Oleh karena itu, melalui Asta Mantra Keluarga, pemerintah melakukan delapan upaya pendampingan yang di antaranya mencakup mengurangi waktu screen time dan memperbanyak green time, misalnya seperti menjadikan rumah sebagai zona interaksi, mengatur jadwal penggunaan gawai pada anak sesuai usia dan diawasi.

"Kita harus berhati-hati untuk memastikan anak-anak, jangan sampai hanya fokus terhadap internet," kata Woro.

Upaya kedua adalah membangun kota dan desa yang liveable (layak huni) dan loveable (ramah), di mana pemerintah mendorong warga memanfaatkan dan merawat taman, lapangan dan ruang publik sebagai ruang bermain anak.

Upaya mewujudkan keluarga berkualitas di era digital itu dilanjutkan dengan mendorong orang tua menjadi pengasuh yang efektif, menghidupkan nilai agama dan akhlak mulia, melestarikan budaya luhur bangsa, mengaktifkan solidaritas ketetanggaan, berkolaborasi lintas sektor dan memanfaatkan digital untuk koordinasi.

Baca juga: RI batasi medsos untuk anak, ini kebijakan perlindungan dari platform

Baca juga: Susul Indonesia, negara Eropa kompak batasi akses medsos untuk anak

Baca juga: Perlindungan daring, orang tua diminta beri pemahaman penggunaan gawai

Baca juga: Austria larang medsos pada remaja, ikuti jejak Australia, Prancis

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |