Banda Aceh (ANTARA) - Kelompok Konservasi Penyu Lampuuk, Aceh meminta Pemerintah Aceh melahirkan regulasi untuk melindungi telur penyu dan spesiesnya yang masih terancam oleh perburuan baik dari manusia maupun predator alami.
“Hingga kini, belum ada regulasi yang tegas untuk menghentikan perburuan telur penyu. Kami sering menemukan telur-telur yang diambil oleh masyarakat atau dimangsa predator seperti biawak,” kata Koordinator Kelompok Konservasi Penyu Lampuuk Ikhsan Jamaluddin, di Aceh Besar, Kamis.
Baca juga: Konservasi di Aceh tetas dan lepaskan 12 ribu tukik dalam 10 tahun
Ikhsan menyampaikan bahwa dalam waktu tiga bulan terakhir, kelompok konservasi menemukan delapan sarang penyu berjenis lekang dan belimbing. Namun, 12 sarang lainnya gagal diselamatkan akibat perburuan dan gangguan predator.
Oleh karena itu, dia menilai perlu adanya regulasi khusus untuk memastikan kelangsungan hidup penyu di pesisir Laut Lampuuk dan Aceh secara umumnya. Mengingat, penyu berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.
"Penyu ini berperan dalam mengendalikan populasi ubur-ubur dan membersihkan karang yang menjadi tempat tinggal berbagai jenis ikan. Itu juga akan sangat bermanfaat untuk manusia yang tinggal di bumi," ujarnya.
Baca juga: Upaya pelestarian biota laut, 400 ekor tukik dilepasliar ke laut Aceh
Selain itu, kata dia, pihaknya juga baru melepaskan sebanyak 75 tukik jenis lekang ke laut setelah sebelumnya menjalani proses penetasan dan karantina. Telur-telur tersebut didapatkan melalui patroli garis pantai di Lampuuk, kemudian dievakuasi ke tempat penetasan.
“Butuh waktu sekitar 50 hari untuk menetaskan telur-telur ini, kemudian tukik dikarantina selama empat hari sebelum dilepaskan,” katanya.
Dia menambahkan, beberapa pemburu sejauh ini sudah ada yang mulai sadar dan menyerahkan telur-telur yang mereka temukan ke konservasi. Bahkan, ikut bergabung menjadi bagian dari tim konservasi.
Baca juga: Akademisi USK: Aceh jadi tempat pendaratan penyu terbesar di Indonesia
“Kami juga mengundang mereka pada hari pelepasan tukik agar ikut merasa bangga atas kontribusinya dan melihat pentingnya pelestarian penyu. Perlahan-lahan pola pikir mereka berubah dan mau bergabung ke konservasi,” demikian Ikhsan Jamaluddin.
Pewarta: Rahmat Fajri
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2025