Yogyakarta (ANTARA) - Pakar kesehatan anak Universitas Gadjah Mada (UGM) dr Ratni Indrawanti menilai lonjakan kasus suspek campak di Indonesia masih dapat dikendalikan melalui penguatan surveilans, percepatan penanganan kasus, serta peningkatan cakupan vaksinasi.
Kementerian Kesehatan RI melaporkan terdapat 8.224 kasus suspek campak pada periode 1 Januari hingga 23 Februari 2026.
"Dari 8.000 kasus ini memang situasinya serius dan harus ditangani secara serius. Namun selama kasus ini dapat ditangani dengan surveilans yang baik, penanganan kasus yang cepat, serta peningkatan cakupan vaksinasi, maka masih bisa dikendalikan dan tidak menimbulkan darurat kesehatan," jelas Ratni dalam keterangannya di Yogyakarta, Minggu.
Menurut Ratni, meningkatnya kasus campak salah satunya dipengaruhi oleh menurunnya cakupan vaksinasi di masyarakat.
Baca juga: Kemenkes ingatkan risiko kenaikan kasus campak jelang libur Lebaran
Kondisi tersebut dipicu berbagai faktor, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan, jarak yang jauh, hingga berkurangnya kegiatan imunisasi di tingkat masyarakat.
Selain itu, penyebaran informasi keliru mengenai vaksin di media sosial juga turut memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.
Ratni menegaskan bahwa campak tidak boleh dianggap sebagai penyakit ringan karena dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia atau radang paru-paru hingga kematian.
"Banyak masyarakat yang menyepelekan campak. Padahal jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi seperti pneumonia bahkan menyebabkan kematian," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penundaan vaksinasi dapat meningkatkan risiko penularan karena anak yang belum memiliki antibodi berpotensi menularkan virus kepada orang lain di sekitarnya.
Baca juga: Kemenkes siap buka layanan vaksin campak di posko mudik
"Jika vaksin ditunda, anak tidak memiliki antibodi dan berpotensi menularkan virus kepada orang di sekitarnya. Penundaan ini bukan hanya meningkatkan risiko, tetapi juga dapat memicu penularan yang lebih luas hingga menimbulkan kejadian luar biasa (KLB)," jelasnya.
Ratni menjelaskan bahwa satu anak yang terkena campak berpotensi menularkan virus tersebut kepada hingga 18 orang lainnya. Virus campak juga dapat bertahan di udara, terutama di ruangan tertutup, hingga sekitar dua jam setelah penderita berada di lokasi tersebut.
"Penularannya sangat cepat karena virus campak menyebar melalui udara. Dalam ruangan tertutup, virus ini bisa bertahan hingga dua jam dan berisiko menularkan kepada orang lain yang berada di sekitar," ujar dia.
Baca juga: Dokter: Gejala campak diawali flu biasa diikuti panas tinggi
Baca juga: Kasus meningkat, anak bergejala campak diimbau tak masuk sekolah dulu
Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































