Jakarta (ANTARA) - Akademisi Hubungan Internasional Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Moch Faisal Karim menilai Pemerintah Indonesia dapat menjadi inisiator terkait isu lingkungan dalam forum kerja sama BRICS.
Ia optimis Indonesia dapat menjadi jembatan negara-negara anggota organisasi internasional tersebut karena sudah terbiasa menjadi penengah (bridge builder) di ASEAN.
“Ada satu hal yang semuanya sepakat, yaitu isu lingkungan, isu climate change (perubahan iklim). Nah, di sini mungkin kita harus mampu mencari satu titik temu, dan dari situ kita bisa jalan bareng,” ucap Moch Faisal Karim saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Kamis.
Ia menilai bahwa mengonsolidasikan anggota BRICS dalam isu ekonomi maupun politik lebih sulit bagi Indonesia karena masing-masing negara memiliki kepentingannya sendiri-sendiri, tidak seperti isu perubahan iklim yang berdampak luas terhadap semua negara di seluruh dunia.
Ia pun mendorong Pemerintah Indonesia untuk bersikap lebih proaktif untuk menyuarakan pandangannya dalam forum tersebut meskipun Indonesia bukan negara pendiri dan baru bergabung pada awal Januari 2025.
“Indonesia ini terbiasa membuat sesuatu, kita menjadi inisiator. Kita memiliki semacam posisi sebagai norm entrepreneur (pihak yang mengusung berbagai ide dan nilai baru ke dalam sistem internasional agar diadopsi oleh negara-negara anggota),” kata Faisal.
Selain isu lingkungan, Indonesia juga dapat menginisiasi terbentuknya struktur formal dalam BRICS.
Guru Besar bidang Ilmu Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menyatakan hingga saat ini forum kerja sama tersebut tidak memiliki piagam pendirian, anggaran dasar, maupun sekretariat pusat.
Ia pun mendorong Pemerintah Indonesia untuk berinisiatif menyiapkan rancangan anggaran dasar yang dapat membuat kerja sama BRICS lebih komprehensif dan efektif.
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS dijadwalkan berlangsung di New Delhi, India, pada 12-13 September 2026. Forum kerja sama internasional tersebut mengusung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability” pada tahun ini.
Indonesia bergabung menjadi anggota BRICS pada 6 Januari 2025.
Baca juga: Pengamat: Dedolarisasi sangat mungkin jadi salah satu topik KTT BRICS
Baca juga: Kemlu: Indonesia dorong agenda inklusi keuangan di KTT BRICS
Baca juga: RI dan India bidik kerja sama data center-semikonduktor di Forum BRICS
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































