Tatkala emas hijau dan teknologi menyatu di timur Kalimantan

2 hours ago 2
​Pemerintah merancang jalan, lembaga penelitian menyumbangkan ilmu, lembaga keuangan mendampingi langkah, dan para petani menjadi pelaku utama yang mengubah cita-cita menjadi kenyataan.

Samarinda (ANTARA) - Hamparan sawah terbentang luas di Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, kawasan timur Kalimantan. Angin membawa gemerisik lembut dari rumpun padi yang mulai menguning.

​Di tanah yang disentuh Delta Mahakam ini, dunia pertanian sedang menapaki jalan baru, sebuah jalan yang memadukan kearifan alam dengan ilmu pengetahuan, serta kesabaran petani dengan ketepatan teknologi.

​Panen perdana demplot padi berbasis metode Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) dan pertanian digital di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mandiri bukan sekadar perayaan hasil tanah. Momen ini adalah janji bersama bahwa ketahanan pangan bukanlah sekadar impian, melainkan kenyataan yang tumbuh subur dari bersatunya banyak tangan.

​Di bawah langit Desa Sidomulyo yang cerah, barisan padi berdiri tegak berwarna keemasan. Di sinilah benih-benih harapan ditanam dengan keyakinan bahwa pertanian sejati adalah keselarasan dengan alam, bukan penaklukan atasnya.

​Metode LEISA hadir sebagai jawaban atas keresahan selama ini: bagaimana memanen secara melimpah tanpa melukai bumi, serta menumbuhkan hasil berlimpah tanpa menguras sumber daya yang ada.

Bersama peneliti dari Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur (BI Kaltim) memadukan teknologi pembenihan berbasis bio-invigorasi dengan prinsip-prinsip LEISA.

​Melalui metode ini, benih diberi kekuatan dari alam itu sendiri. Kesuburan tanah dijaga dengan masukan yang efisien namun bermakna, sementara air dan ruang diatur agar setiap jengkal tanah dapat bernapas leluasa.

​Di tengah tantangan cuaca yang tak menentu, bahkan saat kemarau tak menepati janji akibat El Niño, padi-padi tersebut tetap tumbuh tegap dan subur.

Baca juga: Penerapan LEISA BI Kaltim dongkrak produktivitas padi naik 44,8 persen

Bukti nyata

​Tatkala masa panen tiba, angka-angka berbicara sebagai bukti nyata. Produktivitas mencapai 6,95 ton per hektare, melonjak 44,8 persen dibandingkan sebelum penerapan LEISA. Sebuah lompatan yang lahir bukan dari paksaan, melainkan dari pemahaman mendalam bahwa ketika manusia menjaga alam, alam pun akan menjaga manusia.

​Kepala Perwakilan BI Kaltim, Jajang Hermawan, menyampaikan bahwa ketahanan pangan tidak dibangun dalam sekejap. Kelimpahan pangan lahir dari kesungguhan, konsistensi, serta keinginan untuk terus belajar dan berinovasi.

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |