China sediakan prakiraan iklim untuk dukung penanganan pascabencana tanah longsor di Nepal

1 hour ago 2

Beijing (ANTARA) - Pusat Iklim Nasional China menyediakan produk-produk pemantauan dan prakiraan iklim secara berkala bagi Nepal untuk mendukung upaya penyelamatan dan penyaluran bantuan pascabencana tanah longsor dahsyat di pos perlintasan perbatasan Gyirong-Rasuwa, kata Administrasi Meteorologi China (China Meteorological Administration/CMA) pada Kamis (10/9).

Pascabencana itu, Pusat Iklim Nasional China mengaktifkan tanggap darurat dan mulai menyediakan layanan iklim melalui versi cloud MAZU (Multi-hazard, Alert, Zero-gap, and Universal), sebuah sistem peringatan meteorologis dini berbasis kecerdasan buatan (AI) besutan China, yang disesuaikan untuk Nepal.

Pusat itu juga menyusun analisis berkala mengenai kondisi iklim di daerah terdampak bencana dan sekitarnya, serta prakiraan jangka panjang untuk beberapa pekan ke depan.

Di bawah koordinasi CMA, Pusat Iklim Nasional China menyediakan dua kategori produk utama bagi Nepal, yakni pemantauan iklim dan prakiraan iklim.

Untuk pemantauan iklim, pusat itu merilis lima jenis produk rutin yang mencakup kondisi-kondisi seperti suhu, curah hujan, dan kekeringan tanah. Pusat ini juga memantau 10 indikator iklim utama, termasuk El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Madden-Julian Oscillation (MJO).

ENSO merupakan siklus iklim alami yang memengaruhi kondisi cuaca di seluruh dunia. Siklus itu mencakup fase hangat El Nino dan fase dingin La Nina. Berbeda dengan ENSO yang bersifat stasioner, MJO merupakan fenomena pergerakan gangguan awan, curah hujan, angin, dan tekanan atmosfer ke arah timur yang melintasi kawasan tropis dan akan kembali ke titik awalnya dalam kurun waktu rata-rata 30 hingga 60 hari.

Untuk prediksi iklim, pusat tersebut memanfaatkan Fengshun, sebuah model prakiraan iklim berbasis AI, guna menyediakan prakiraan suhu dan curah hujan harian hingga 60 hari ke depan bagi Nepal, beserta proyeksi fenomena iklim yang mencakup ENSO dan MJO.

Pusat Iklim Nasional China juga bekerja sama dengan Jaringan Pusat Iklim Regional Kutub Ketiga (Third Pole Regional Climate Center Network). Sejak 28 Agustus, pihaknya telah menyediakan proyeksi iklim secara berkala untuk 15 hingga 30 hari ke depan bagi Nepal sebagai respons atas kebutuhan negara itu, sekaligus memberikan informasi meteorologis tambahan terkait upaya penyelamatan dan penyaluran bantuan pascabencana.

Dukungan meteorologis itu merupakan bagian dari kerja sama China-Nepal yang lebih luas menyusul bencana pada 26 Agustus tersebut, yang dipicu oleh patahan gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, pada ketinggian sekitar 5.200 meter. Runtuhnya gletser tersebut memicu longsoran es dan batuan yang meluncur cepat ke ketinggian sekitar 4.000 meter, menggerus lereng pegunungan, dan berkembang menjadi aliran puing yang masif.

Menurut CMA, kedua pihak telah menggelar konsultasi cuaca via tautan video tak lama setelah peristiwa tersebut. CMA menyediakan berbagai produk meteorologis bagi Nepal melalui MAZU, termasuk data satelit multisumber serta produk dari seri satelit meteorologis Fengyun-3 dan Fengyun-4.

MAZU, yang secara harfiah berarti "Dewi Laut" dalam kebudayaan Minnan Tiongkok, merupakan rencana aksi tingkat nasional pertama di dunia sebagai respons terhadap inisiatif Peringatan Dini untuk Semua Pihak (Early Warnings for All) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sejak 2024, badan meteorologi di lebih dari 40 negara telah mengakses MAZU melalui cloud.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |