Nyalakan Kemerdekaan: Menjaga kedaulatan energi dan amanat keadilan

4 days ago 9

Jakarta (ANTARA) - Ada sebuah pertanyaan yang hampir selalu muncul setiap kita tiba pada bulan Agustus. Setelah sekian puluh tahun merdeka, apakah arti kemerdekaan bagi Indonesia hari ini?

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, jawabannya tidak pernah sederhana. Bagi generasi 1945, kemerdekaan mempunyai wajah yang sangat nyata. Ia adalah keberanian untuk mengatakan bahwa bangsa ini berhak menentukan nasibnya sendiri. Ia dibayar dengan pengorbanan, darah, air mata, dan tekad untuk mendirikan sebuah negara yang berdaulat.

Delapan puluh satu tahun kemudian, kita hidup dalam keadaan yang berbeda. Tidak ada lagi tentara kolonial yang harus diusir dari tanah air. Tidak ada lagi proklamasi yang harus dibacakan. Bendera Merah Putih telah berkibar di seluruh pelosok negeri.

Akan tetapi, kemerdekaan belum kehilangan pekerjaannya. Setiap zaman melahirkan bentuk perjuangannya sendiri.

Pada masa kini, kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya diuji oleh kemampuan mempertahankan wilayah. Ia juga diuji oleh kemampuan menyediakan pangan bagi rakyatnya, menguasai teknologi, mengelola sumber daya alam, membangun industri, menyediakan energi, menjaga lingkungan, serta memastikan bahwa kemajuan tidak hanya dinikmati oleh mereka yang tinggal dekat dengan pusat-pusat kekuasaan dan ekonomi.

Kedaulatan dan energi

Dari titik itulah saya memandang persoalan energi. Mungkin tidak banyak orang membayangkan hubungan langsung antara kemerdekaan dan sebuah sakelar listrik di rumah.

Padahal keduanya sangat dekat. Ketika sebuah keluarga menyalakan lampu pada malam hari, ada anak yang dapat belajar. Ketika listrik tersedia dengan baik di sebuah desa, kegiatan ekonomi dapat tumbuh. Ketika jaringan listrik masuk ke kawasan industri, mesin bekerja dan lapangan pekerjaan tercipta.

Rumah sakit, sekolah, pusat data, transportasi, komunikasi, hingga kegiatan ibadah modern membutuhkan energi. Maka listrik sesungguhnya bukan hanya komoditas. Ia adalah bagian dari infrastruktur peradaban.

Pengalaman saya berada di lingkungan PLN semakin memperlihatkan bahwa di balik sesuatu yang tampaknya sangat teknis itu terdapat persoalan kebangsaan yang besar.

PLN mempunyai tugas menjaga agar listrik tetap menyala hari ini, tetapi pada saat yang sama juga harus memikirkan dari mana energi Indonesia 20, 30, bahkan 50 tahun mendatang akan berasal.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |