Jakarta (ANTARA) - Tahun baru biasanya dirayakan dengan gemerlap kembang api, keriuhan suara terompet sampai dengan menyajikan berbagai hidangan enak untuk dinikmati bersama yang terkasih.
1 Januari pun seharusnya menjadi hari di mana banyak orang memulai hari dengan resolusi baru yang telah disusun sebelumnya. Namun nyatanya, tidak semua negara merayakan tahun baru.
Biasanya hal ini dipengaruhi oleh kepercayaan atau aturan yang dipatuhi warganya untuk tidak merayakan hari besar tersebut.
Mengutip Go2Tutors pada Kamis (1/1), berikut sejumlah negara yang tidak merayakan tahun baru pada 1 Januari:
Baca juga: Warga Beijing sambut Tahun Baru 2026 di Tembok Besar China
China
Masyarakat China yang berusia muda memang berkumpul di distrik perbelanjaan untuk menonton kembang api atau menghadiri pesta, namun secara umum, mereka lebih menunggu Tahun Baru Imlek atau yang dikenal sebagai Festival Musim Semi.
Ratusan juta orang pulang kampung untuk berkumpul kembali dengan keluarga mereka. Perayaan berlangsung selama lima belas hari, diakhiri dengan Festival Lentera.
Dekorasi merah menghiasi segalanya dan petasan meledak di malam hari untuk mengusir roh jahat.
Saat itulah keluarga Tionghoa memberikan amplop merah, berbagi jamuan makan yang mewah, dan benar-benar menandai peralihan dari satu tahun ke tahun berikutnya.
Baca juga: Ribuan warga Malaysia padati Bukit Bintang sambut Tahun Baru 2026
Vietnam
Warga Vietnam lebih menantikan Hari Raya Tết yang bertepatan dengan Imlek. Mereka akan melakukan persiapan yang biasanya memakan waktu selama berminggu-minggu.
Setiap orang akan membeli pakaian baru dan membersihkan rumah untuk mengusir nasib buruk. Nantinya, rumah akan dipenuhi dekorasi seperti bunga persik dan pohon kumquat.
Perayaan berlangsung selama beberapa hari, dengan hidangan mewah, pemujaan leluhur, dan anak-anak menerima amplop merah berisi uang.
Baca juga: Makna malam Tahun Baru 2026: Harapan, kebersamaan, dan refleksi hidup
Ethiopia
Ethiopia menggunakan kalendernya sendiri, yang selisihnya tujuh hingga delapan tahun dari kalender Gregorian.
Tahun Baru Ethiopia yang disebut Enkutatash, jatuh pada tanggal 11 September atau 12 September selama tahun kabisat.
Perayaan ini menandai berakhirnya musim hujan dan dimulainya musim semi. Keluarga berkumpul untuk pesta, bertukar bunga, dan menyanyikan lagu-lagu tradisional.
Anak-anak pergi dari rumah ke rumah menawarkan lukisan dan bernyanyi untuk mendapatkan hadiah kecil. Tanggal 31 Desember berlalu tanpa upacara bagi sebagian besar warga Ethiopia.
Iran
Iran memiliki tahun baru yang disebut Nowruz dan telah dirayakan selama lebih dari 3 ribu tahun. Hari besar itu bertepatan dengan ekuinoks musim semi.
Keluarga menyiapkan meja upacara yang disebut Haft-sin, yang dihiasi dengan tujuh barang yang dimulai dengan huruf S dalam bahasa Persia. Anggota keluarga turut melakukan pembersihan musim semi secara menyeluruh.
Perayaan berlanjut selama tiga belas hari, diakhiri dengan piknik di luar ruangan pada Sizdah Bedar.
Baca juga: Sejarah & makna "New Year’s Eve", malam terakhir sebelum Tahun Baru
Arab Saudi
Kalender resmi Arab Saudi adalah kalender Hijriah. Tahun barunya jatuh pada hari pertama Muharram dalam kalender Islam.
Bagi muslim Saudi konservatif, merayakan tahun baru secara tradisional dianggap tidak pantas dan bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agama Islam.
Brunei Darussalam
Sama halnya dengan Arab Saudi, Sultan Brunei Hassanal Bolkiah juga melarang perayaan Natal dan Tahun Baru di depan umum sejak tahun 2014, dengan alasan perlunya melindungi agama Islam.
Menampilkan dekorasi, mengenakan pakaian meriah, atau berkumpul di depan umum untuk merayakannya dinilai bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam.
Baca juga: 25 ucapan Islami "Selamat Tahun Baru 2026", penuh doa dan bermakna
Penerjemah: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































