Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menekankan peran berbagai perguruan tinggi sebagai penopang utama keberhasilan Indonesia dalam mewujudkan swasembada beras.
"Tanpa perguruan tinggi yang mendukung kami, kami tidak akan mencapai swasembada yang berkali-kali dikira tidak mungkin," kata Andi Amran Sulaiman dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta, Sabtu.
Menteri Andi Amran menyebut kolaborasi Kementerian Pertanian dan ekosistem perguruan tinggi Indonesia menghasilkan capaian yang belum pernah dicapai sepanjang sejarah Republik. Stok beras nasional kini mencapai 5,1 juta ton, melampaui kapasitas gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) sebesar 3 juta ton.
Ia melanjutkan, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat di angka 127, tertinggi dalam 34 tahun, sementara pertumbuhan kesejahteraan petani mencapai 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Dari sisi teknologi, kata Amran, inovasi budidaya padi hasil kolaborasi riset perguruan tinggi dengan kementerian terkait mencatat produktivitas 12,4 ton per hektar, lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional yang hanya 5,5 ton per hektare.
Teknologi ini telah diuji coba di 14 provinsi dengan produktivitas terendah mencapai 9 ton per hektare. Food and Agriculture Organization (FAO) memproyeksikan produksi beras Indonesia pada 2026 mencapai 38,6 juta ton.
Baca juga: Mentan: Produksi beras RI peringkat keempat dunia versi FAO
"Ini bukan capaian satu kementerian. Ini capaian anak bangsa, capaian buah terbaik bangsa, termasuk seluruh perguruan tinggi yang ada dalam rumah ini," ujar Mentan menegaskan.
Menteri Andi Amran menekankan bahwa peran Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Andalas (Unand), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan berbagai perguruan tinggi lainnya sebagai penopang utama keberhasilan transformasi ke arah swasembada pangan.
Diketahui, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong upaya transformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern.
Mekanisasi pertanian yang kini diterapkan mampu memangkas biaya produksi hingga 50 persen dan meningkatkan hasil panen hingga dua kali lipat dibandingkan metode konvensional.
Kemdiktisaintek juga mendorong pemanfaatan pendekatan berbasis data dan sains dalam perumusan kebijakan pertanian. Reformasi distribusi pupuk subsidi yang memangkas 145 regulasi, termasuk kewajiban tanda tangan 12 menteri, 38 gubernur, dan 514 bupati, menjadi contoh nyata bagaimana pendekatan berbasis bukti dapat menghasilkan efisiensi signifikan.
Sebelumnya, pada pembukaan KSTI 2026 Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa forum ini diarahkan untuk menghasilkan rumusan strategis mengenai peran dan kontribusi perguruan tinggi dalam mempercepat pelaksanaan program-program prioritas nasional.
Baca juga: Mentan: NTP petani tertinggi dalam 34 tahun terakhir
"Di bawah arahan Bapak Presiden, pemerintah terus bergerak cepat dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan nasional. Dalam semangat tersebut, Kemdiktisaintek bersama seluruh perguruan tinggi memperkuat peran kampus sebagai mitra strategis pemerintah dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi," ucap Brian Yuliarto.
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































