Moskow (ANTARA) - Ada kemungkinan Amerika Serikat melakukan operasi militer terhadap Kolombia, serupa dengan yang terjadi di Venezuela, kata seorang pejabat.
Namun, Menteri Luar Negeri Kolombia Rosa Yolanda Villavicencio pada Rabu, mengatakan bahwa Bogotá meyakini hal itu tidak akan terjadi.
Awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump menuduh Presiden Kolombia Gustavo Petro terlibat dalam produksi massal kokain dan mengancam akan melancarkan operasi militer terhadap Kolombia.
“Memang ada kemungkinan [operasi militer AS terhadap Kolombia], tetapi kami percaya berkat jalur diplomasi serta mobilisasi warga dalam membela kedaulatan dan martabat, bukan hanya di Kolombia, melainkan juga di negara-negara lain yang menilai tindakan ini sewenang-wenang, hal itu tidak akan terjadi,” kata Villavicencio dalam wawancara dengan harian Italia Corriere della Sera.
Menlu Kolombia itu menolak tuduhan Trump yang disebutnya “tidak pantas” dan “tidak berdasar.”
Menurutnya, dengan menghina Petro, pemimpin AS tersebut sekaligus menghina seluruh bangsa Kolombia.
Villavicencio menambahkan, sekalipun Trump ingin menuduh Presiden Kolombia memiliki hubungan dengan kartel narkoba atau mendorong perdagangan narkotika, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa tuduhan itu “sepenuhnya keliru.”
Karena itu, agresi AS terhadap Kolombia “mungkin saja, tetapi tidak realistis," kata dia.
Pada 3 Januari, Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela, menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dan membawa mereka ke New York.
Trump menyatakan bahwa keduanya akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam “narko-terorisme” dan dianggap sebagai ancaman, termasuk bagi AS.
Caracas kemudian meminta sidang darurat PBB terkait operasi tersebut.
Mahkamah Agung Venezuela sementara waktu menyerahkan tugas kepala negara kepada Wakil Presiden Delcy Rodriguez, yang resmi dilantik sebagai presiden sementara di hadapan Majelis Nasional pada 5 Januari.
Rusia, China, dan Korea Utara mengecam keras tindakan AS.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan solidaritas dengan rakyat Venezuela serta menyerukan pembebasan Maduro dan istrinya, sekaligus mencegah eskalasi lebih lanjut atas situasi tersebut.
Sumber: Sputnik-RIA Novosti
Baca juga: Sekitar 75 orang tewas saat operasi penangkapan Maduro
Baca juga: Rupiah melemah seiring ketidakpastian suku bunga The Fed
Baca juga: Tujuh tentara militer AS terluka dalam operasi penculikan Maduro
Penerjemah: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































