Menjawab paradoks keberagamaan di Indonesia

4 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Indonesia sering dipuji sebagai bangsa yang religius. CEOWORLD Magazine pada 2024 menempatkan Indonesia di posisi ketujuh negara dengan tingkat religiusitas tertinggi di dunia.

Di ruang publik, masyarakat terbiasa menyebut nama Tuhan dan agama untuk merespons segala macam persoalan. Rumah ibadah berdiri megah, kegiatan keagamaan berlangsung semarak, dan kehidupan sosial penuh dengan simbol-simbol religius.

Sayangnya, di tengah wajah religius itu, masih kerap terjadi fenomena fanatisme sempit, intoleransi, kecurigaan berlebihan, hingga perilaku yang tidak selaras dengan nilai kasih, keadilan, dan kejujuran.

Di sinilah paradoks keberagamaan muncul, ketika Tuhan diagungkan melalui ritual dan kata, tetapi kerap diabaikan dalam wajah nyata relasi antarmanusia.

Dalam keberagamaan, ajakan beribadah atau berdakwah memang baik, tetapi keyakinan yang dewasa senantiasa disertai kesadaran bahwa keputusan akhir berada di tangan Tuhan. Keikhlasan seperti ini dapat menepis dorongan untuk memaksakan keyakinan pribadi.

Data Setara Institute pada 2024 menunjukkan bahwa sejumlah kota di Indonesia masih berada pada kategori intoleransi yang memerlukan perhatian.

Fenomena intoleransi tidak selalu hadir dalam bentuk konflik terbuka. Tetapi sering tampil sebagai cibiran halus di media sosial, pelabelan negatif, atau kecurigaan yang terus dipelihara.

Fenomena ini ibarat api dalam sekam yang kecil, nyaris tak terlihat, tetapi berpotensi memanaskan ruang sosial bila dibiarkan. Menariknya, sebagian pelaku intoleransi justru tampil religius secara lahiriah.

Ritual berjalan, doa terucap, tetapi nilai ilahi belum sepenuhnya mewujud dalam sikap hormat terhadap martabat sesama.

Keberagamaan yang matang sesungguhnya melahirkan ketenangan batin. Keyakinan bahwa Tuhan Mahakuasa dan Mahatahu seharusnya menumbuhkan rasa percaya, bukan ketakutan berlebihan terhadap perbedaan.


Menumbuhkan keberagaman

Di banyak ruang, rasa takut justru mendorong lahirnya klaim kebenaran yang ingin dipaksakan. Di titik ini, ego sering menyamar sebagai iman.

Ketika ajaran agama dipersempit hanya dalam kerangka idealisme kelompok, Tuhan yang Mahabesar seolah ditarik turun ke ruang sempit kepentingan manusia.

Padahal, inti ajaran agama-agama besar selalu menekankan kasih, keadilan, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap kehidupan.

Ruang digital di Indonesia kini menjadi panggung terbuka bagi kedua wajah keberagamaan itu. Di satu sisi, media sosial mempercepat penyebaran ujaran kebencian, fitnah, dan stigmatisasi berbasis identitas.

Di sisi lain, ruang digital juga melahirkan inisiatif dialog lintas iman, edukasi toleransi, serta gerakan solidaritas yang menyejukkan.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |