Bandung (ANTARA) - Kabut tipis masih menyelimuti punggung bukit Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, ketika Juhdi, pria berusia 50-an, menatap hamparan sawahnya yang berbeda rupa.
Ketua Kelompok Tani Fajar Bakti Desa Sirnajaya itu melihat petak-petak sawah dengan bulir berwarna gelap di antara warna hijau kekuningan padi biasa yang mendominasi. Bulir berwarna gelap itu berdiri angkuh namun menyimpan tuah.
Itulah beas hideung cigadog, varietas padi hitam lokal yang menjadi "harta karun" tersembunyi di tanah Priangan.
"Ini warisan leluhur, sudah turun-temurun. Dan sejak tahun 2000-an saya sudah mulai tanam dengan intens," ujar Juhdi sambil menunjukkan malai padi yang merunduk berat.
Beas hideung atau beras hitam, yang di zaman kekaisaran China kenal sebagai forbidden rice, adalah sajian "terlarang" bagi rakyat jelata. Beras itu diproduksi hanya untuk meja makan kaisar demi umur panjang.
Tapi kini di Gunung Halu, mitos eksklusivitas itu bertransformasi menjadi penopang ekonomi nyata.
Juhdi tidak membual soal nilai ekonominya. Jika gabah padi putih biasa dihargai Rp700.000 per kuintal, gabah beas hideung bisa menembus Rp1.000.000 per kuintal. Adapun ketika menjadi beras, harganya menginjak Rp20.000 per kilogram di tingkat petani, jauh di atas beras premium pasar.
Namun, di balik kilau harganya, ada tantangan yang nyata, pertama usia tanam yang rata-rata mencapai 5-6 bulan atau dua bulan lebih lama dari padi putih. Tapi Juhdi bisa panen tiap empat bulan mengingat lahan yang digarapnya berada di lembah dengan air yang melimpah.
Kemudian tantangan kedua adalah produktivitas yang hanya tiga ton per hektare, separuh dari padi biasa.
Di sinilah peran vital pupuk sebagai nutrisi bumi menjadi penentu. Tanpa asupan pupuk yang tepat, varietas lokal yang rentan ini bisa gagal memberikan bulir terbaiknya.
Pengelola Kios Akbar Jaya, Yulia Septia Wahyuni, bersiap untuk bertransaksi pupuk bersubsidi dengan aplikasi i-Pubers di kiosnya di Desa Sirnajaya, Gunung Halu, Bandung Barat. (ANTARA/Ricky Prayoga)Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































