Jakarta (ANTARA) - Tim nasional futsal Indonesia menorehkan tinta emas dalam sejarah perkembangan futsal tanah air dengan mengunci posisi runner-up Piala Asia 2026.
Bahkan Tim Garuda nyaris menjadi juara. Mereka memaksa sang juara bertahan Iran bermain imbang 5-5 dan dilanjutkan babak adu penalti yang berakhir 4-5 untuk Iran pada babak final yang berlangsung di Indonesia Arena, Jakarta, akhir pekan lalu.
Prestasi ini merupakan sesuatu hal yang sangat membanggakan untuk Indonesia, yang kali pertama bisa menjadi runner-up sepanjang keikutsertaan mereka di turnamen futsal terbesar antar negara se-Asia ini.
Futsal Asia memang masih dikuasai oleh Iran yang notabene kini telah mengunci gelar ke-14 pada Piala Asia. Hanya Jepang yang jawara sebanyak empat kali mampu mengganggu dominasi Iran dalam turnamen yang pertama kali diselenggarkan tahun 1999 ini.
Meski kalah, tim Garuda patut berbangga. Pencapaian kali ini akan menjadi api pemantik untuk tim asuhan Hector Souto ini mengganggu dominasi Iran dan Jepang di kancah Asia.
Timnas Indonesia bisa mendulang prestasi ini juga bukan serta merta dibangun dalam kurun waktu sehari atau dua hari. Bukan juga dibangun lewat ambisi instan yang diperoleh dari proses naturalisasi atau pencarian jejak pemain berketurunan diaspora.
Namun tim Garuda dibangun lewat keseriusan dan ekosistem yang jelas sehingga bisa melahirkan talenta-talenta kelas internasional semacam Mochammad Iqbal Iskandar dan kawan-kawan.
Dengan prestasi gemilang ini tentu akan menjadi pertanyaan bagi publik, apakah torehan membanggakan jadi pemicu terciptanya ekosistem futsal di tanah air yang lebih sehat? Atau ini adalah prestasi sekali gapai dan gagal berlanjut?
Baca juga: Futsal Indonesia, menunggu sejarah tanpa kehilangan arah
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































