Jakarta (ANTARA) - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menekankan peningkatan kapasitas (skill) menjadi penting bagi anak muda karena kemampuan yang relevan dengan zaman diperlukan di pasar kerja saat ini.
“Untuk menang dalam persaingan lokal dan global, kita tidak cukup mengandalkan satu kompetensi. Be unique, be different, be a champion,” kata Menaker dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Yassierli menilai, anak muda yang enggan menambah keterampilan baru berisiko kehilangan peluang kerja dan tersisih dari persaingan kerja yang makin ketat.
Peringatan itu, lanjutnya, muncul karena perubahan teknologi dan ekonomi global membuat kebutuhan industri ikut bergeser.
Baca juga: Menaker minta lulusan BLK miliki akses ke dunia kerja melalui jejaring
Sejumlah sektor baru terus tumbuh, mulai dari ekonomi digital dan kreatif, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), care economy, hingga ekonomi berkelanjutan.
Dampaknya, tenaga kerja dituntut lebih adaptif, terutama generasi muda yang sedang bersiap masuk atau baru memulai karier.
Dalam konteks tersebut, Yassierli menilai cara pandang “cukup satu keahlian” sudah tidak relevan. Ia menyebut sekitar 59 persen pekerja di dunia diperkirakan perlu mempelajari keterampilan baru agar tetap sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.
Perubahan kebutuhan itu juga tercermin pada model kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Jika dulu seseorang cukup menjadi pakar di satu bidang, kini dibutuhkan kemampuan yang berlapis dan saling terhubung.
Baca juga: Di balik turunnya angka pengangguran di Indonesia
Yassierli menyebut model T-Shaped (mendalam di satu bidang, memahami bidang lain), Pi-Shaped (memiliki dua keahlian utama), hingga M-Shaped atau multi-spesialisasi yang terintegrasi sebagai gambaran skillset yang perlu dibangun anak muda.
Agar generasi muda memiliki akses untuk mengembangkan skillset tersebut, Yassierli menegaskan, Kementerian Ketenagakerjaan memperkuat peran Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai pusat pelatihan vokasi yang adaptif.
Menurutnya, BLK tidak lagi hanya mengajarkan keterampilan konvensional, tetapi juga diarahkan untuk mengembangkan talenta yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
Ia menambahkan, kunci agar proses peningkatan kompetensi berjalan konsisten adalah growth mindset.
Menaker Yassierli mengingatkan, sekitar 50 persen pekerjaan di industri diprediksi akan berubah dalam 10 tahun ke depan, sehingga kemampuan untuk terus belajar ulang menjadi keharusan bagi pekerja, termasuk generasi muda.
“Tantangan kita saat ini adalah pekerja yang tidak mau belajar hal baru. Padahal, growth mindset adalah kunci manusia beradaptasi,” ujarnya.
Selain menyiapkan kompetensi, Yassierli juga menyoroti peluang yang kini terbuka lebih luas bagi daerah.
Menaker mendorong kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem ketenagakerjaan dan pengembangan talenta di daerah.
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































