Menenun masa depan dari kreativitas

6 hours ago 2
Masa depan ekonomi NTB tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam atau proyek infrastruktur besar. Masa depan itu juga ditentukan oleh kemampuan daerah memelihara kreativitas warganya.

Mataram (ANTARA) - Pagi di banyak desa di Nusa Tenggara Barat (NTB) sering dimulai dengan suara yang tidak selalu terdengar sama. Di sebagian tempat terdengar denting alat tenun yang bergerak perlahan. Di tempat lain, anak muda sibuk memotret produk kerajinan untuk dipasarkan di media sosial.

Sementara di kota, beberapa ruang kerja kecil dipenuhi desainer grafis, kreator konten, dan pengembang aplikasi yang bekerja dari laptop mereka. Semua aktivitas itu memiliki benang merah yang sama, yakni kreativitas yang perlahan berubah menjadi ekonomi.

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi kreatif mulai dipandang bukan sekadar pelengkap sektor pariwisata, tetapi sebagai mesin pertumbuhan baru bagi daerah.

Pemerintah bahkan menempatkan koridor Bali Nusa Tenggara sebagai kawasan superhub pariwisata dan ekonomi kreatif bertaraf internasional dalam visi pembangunan jangka panjang menuju 2045.

Di tengah dinamika tersebut, NTB kini berada pada titik yang menarik. Daerah ini tidak hanya memiliki kekayaan budaya dan kreativitas masyarakat, tetapi juga mulai diposisikan sebagai laboratorium kebijakan ekonomi kreatif nasional, terutama melalui skema pembiayaan Kredit Usaha Rakyat bagi pelaku ekonomi kreatif.

Momentum ini membuka pertanyaan penting. Apakah NTB benar-benar siap menjadikan ekonomi kreatif sebagai fondasi masa depan ekonomi daerah.

Baca juga: NTB dorong milenial berperan dalam pengembangan pariwisata dan ekraf


Daya cipta

Ekonomi kreatif pada dasarnya bertumpu pada satu hal yang tidak pernah habis yaitu ide manusia. Dalam kerangka nasional, sektor ini mencakup sedikitnya 17 subsektor mulai dari kuliner, kriya, fesyen, film, musik, hingga aplikasi digital dan pengembangan gim.

Di NTB, potensi tersebut terlihat dari berbagai kegiatan ekonomi berbasis budaya dan kreativitas masyarakat. Tenun tradisional di Lombok dan Sumbawa, misalnya, bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sumber pendapatan bagi ribuan keluarga.

Di Kabupaten Sumbawa Barat, pemerintah daerah bahkan menggelar pelatihan pengembangan motif tenun selama 20 hari untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus memperkuat daya saing pasar. Program tersebut tidak sekadar melatih teknik menenun, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya desain baru yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Selain kriya dan fesyen, ekonomi kreatif juga berkembang melalui berbagai festival dan pameran produk lokal. Karya Kreatif NTB dan Lombok Sumbawa Tenun Festival menjadi contoh bagaimana promosi budaya dapat diubah menjadi panggung ekonomi bagi pelaku usaha kecil.

Festival tersebut tidak hanya menampilkan produk tenun, tetapi juga bazar kriya, pertunjukan seni, hingga pasar kuliner. Kegiatan semacam ini memperlihatkan bahwa ekonomi kreatif memiliki efek berantai yang luas, mulai dari produksi hingga konsumsi.

Fenomena menarik lainnya muncul dari desa-desa yang mulai memanfaatkan budaya sebagai basis ekonomi kreatif. Pembentukan museum desa di beberapa wilayah Lombok menunjukkan bagaimana pelestarian sejarah dapat dipadukan dengan aktivitas ekonomi baru.

Baca juga: Mewujudkan ekonomi berkeadilan tanpa tambang

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |