Menata ulang rumah kebudayaan

1 week ago 15

Surabaya (ANTARA) - Riuh pelataran Balai Pemuda tak pernah benar-benar padam. Dari ruang-ruang itu, jejak panjang kesenian di Kota Surabaya dirawat, diuji, sekaligus diwariskan lintas generasi.

Di tengah dinamika kota yang kian kompleks, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah ruang-ruang itu cukup untuk menampung denyut kebudayaan yang jauh lebih luas dari sekadar seni pertunjukan?

Rencana transformasi Dewan Kesenian Surabaya menjadi Dewan Kebudayaan Surabaya menjawab kegelisahan itu. Ini bukan sekadar perubahan nama lembaga, melainkan upaya menata ulang cara kota memahami, mengelola, dan memajukan kebudayaan.

Dalam konteks Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, langkah ini terasa sebagai keniscayaan, bukan pilihan.

Selama ini, dewan kesenian cenderung berfokus pada seni sebagai ekspresi estetika. Padahal, kebudayaan mencakup spektrum yang jauh lebih luas, mulai dari adat istiadat, ritus, bahasa, hingga pengetahuan tradisional.

Ketika ruang lingkup diperluas, maka tantangan juga ikut membesar. Di sinilah dewan kebudayaan diharapkan hadir sebagai simpul strategis yang menghubungkan ragam elemen tersebut.

Data dan dinamika lapangan menunjukkan bahwa Surabaya memiliki modal sosial budaya yang kuat. Aktivitas seni rupa yang rutin, pertunjukan tari yang konsisten, hingga komunitas sastra yang tetap hidup, menjadi indikator bahwa kota ini tidak kekurangan energi kreatif. Hanya aja, energi itu kerap berjalan sendiri-sendiri, belum sepenuhnya terorkestrasi dalam satu ekosistem yang utuh.

Transformasi kelembagaan menjadi pintu masuk untuk memperbaiki situasi tersebut. Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah dewan kebudayaan diperlukan, melainkan bagaimana memastikan lembaga ini tidak sekadar menjadi simbol administratif, tanpa daya jangkau nyata.


Ekosistem terputus

Salah satu persoalan klasik dalam pengelolaan kebudayaan di kota besar adalah fragmentasi. Komunitas tumbuh, kegiatan berjalan, tetapi koordinasi seringkali lemah. Surabaya tidak sepenuhnya lepas dari persoalan ini.

Balai Pemuda, misalnya, telah lama menjadi pusat aktivitas kesenian. Sejak dekade 1970-an, ruang ini melahirkan banyak seniman besar dan menjadi titik temu berbagai ekspresi kreatif. Hingga kini, fungsinya tetap vital, namun, ketergantungan pada satu ruang utama justru menimbulkan persoalan baru, seperti keterbatasan akses dan distribusi kegiatan.

Di sisi lain, kebutuhan akan ruang alternatif semakin mendesak. Banyak pelaku seni menginginkan galeri, ruang pertunjukan, hingga ruang eksperimen yang tersebar di berbagai titik kota. Tanpa itu, pertumbuhan ekosistem akan terhambat oleh keterbatasan fisik.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |