Jakarta (ANTARA) - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengungkapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan kualitas talenta digital Indonesia yang dinilai masih ada kesenjangan (gap).
“Kita ingin mengisi gap terkait dengan (sektor) digital, talenta digital atau digital talent di Indonesia yang saat ini kita masih ada shortage, masih ada gap dibandingkan dengan negara-negara lain,” kata Yassierli di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan ekonomi digital merupakan salah satu sektor ekonomi yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat di dunia.
Oleh karena itu, Menaker menilai pemerintah perlu memberikan perhatian terhadap sektor tersebut melalui sejumlah program dan kolaborasi dengan para pemangku kepentingan termasuk pelaku industri, agar kualitas keterampilan sumber daya manusia (SDM) digital Indonesia mampu berdaya saing dan relevan oleh zaman.
“Kita sangat sadar bahwa tidak mungkin kita sendiri untuk bisa melakukan. Mulai dari penyiapan instruktur, penyiapan kurikulum, penyiapan skema sertifikasi, penyiapan terkait dengan proses sertifikasi itu sendiri,” kata Yassierli.
“Sehingga, sekali lagi, kolaborasi dengan industri sesuai dengan tata kelola kementerian, seharusnya maka itu menjadi suatu keniscayaan,” ujar dia menambahkan.
Yassierli menyampaikan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mendekati 100 miliar dolar AS pada tahun 2025 dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.
“Sehingga, sekali lagi, sektor e-commerce, sektor terkait dengan content-driven commerce ini menjadi salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh anak bangsa sebagai bagian utama dalam sektor ekonomi digital,” katanya.
Selain kesiapan pemerintah dan kolaborasi dengan sektor industri digital, Yassierli mengingatkan para pekerja maupun calon pekerja yang tertarik masuk ke sektor tersebut agar terus memiliki pola pikir bertumbuh (growth mindset), sehingga selalu siap untuk belajar sesuatu yang baru dan mengasah keterampilan yang ada, sesuai dengan perubahan zaman.
“Mindset siap untuk belajar sesuatu yang baru karena kita sadar bahwa industri bergeser, industri berkembang. Sering saya sampaikan dalam 10 tahun ke depan, 50 persen proses bisnis yang ada saat ini di industri menjadi tidak relevan. Banyak yang baru, ada sekian banyak pekerjaan-pekerjaan, job title, yang sekarang tumbuh besar, padahal mungkin lima tahun yang lalu itu belum ada,” katanya menjelaskan.
Dalam peningkatan keterampilan SDM muda, lanjut dia, salah satunya dilakukan melalui program Pelatihan Vokasi Nasional dan Magang Nasional yang membekali peserta dengan berbagai pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan oleh industri dan dunia kerja saat ini.
“Kita harapkan memang ini bisa sebagai bagian solusi untuk menyelesaikan permasalahan terkait dengan link and match, tuntutan skills saat dia bekerja dan dengan kebutuhan dari industri,” ujar Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































