Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menyatakan pertemuan sejumlah pejabat Indonesia dengan investor dan lembaga keuangan di Amerika Serikat (AS) harus diikuti dengan kredibilitas kebijakan.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo melakukan serangkaian kunjungan (roadshow) ke Amerika Serikat pada pekan ini untuk meyakinkan investor dan lembaga keuangan internasional terkait ketahanan fundamental makroekonomi dan fiskal Indonesia.
Saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu, Rizal mengatakan pertemuan tersebut dapat meningkatkan sentimen positif terhadap pasar domestik Indonesia dalam jangka pendek.
"Pertemuan Menkeu dan Gubernur BI dengan pelaku global seperti HSBC, BlackRock, dan IMF berdampak memberi sentimen positif jangka pendek, bukan perubahan fundamental dan struktural," ucapnya.
Ia memproyeksikan respons pasar terhadap pertemuan tersebut akan terjadi dalam beberapa hari atau bahkan minggu ke depan.
Namun, Rizal mengingatkan bahwa para investor akan kembali melihat realitas data serta tetap menguji konsistensi antara narasi yang disampaikan dan fundamental di lapangan.
Ia menyampaikan kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih cukup baik dengan tingkat inflasi yang relatif terkendali sebesar 3,48 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) per Maret 2026 dan penerimaan negara tumbuh 10,5 persen yoy menjadi Rp574,9 triliun per 31 Maret.
Namun, ia mengatakan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.100 per dolar AS, penurunan cadangan devisa dari 151,9 miliar dolar AS menjadi 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret, tren kenaikan yield SBN, hingga kekhawatiran terhadap arah fiskal menjadi faktor penahan.
"Artinya, pertemuan ini berfungsi sebagai confidence signaling (memberikan sinyal kepercayaan diri) bersifat sementara, bukan game changer (pembawa perubahan signifikan) bagi pasar domestik," kata Rizal.
Ia pun menilai pertemuan tersebut belum cukup untuk memulihkan kepercayaan investor secara penuh, sehingga penting untuk mengimplementasikan tindak lanjut kebijakan yang konkret dan disiplin.
Rizal mengatakan pemerintah perlu memastikan pengelolaan fiskal tetap kredibel, pembiayaan defisit yang transparan dan akuntabel, serta tidak memunculkan instrumen yang meningkatkan persepsi risiko.
Selain itu, koordinasi sektor fiskal dan moneter harus benar-benar efektif dalam menjaga stabilitas rupiah tanpa menggerus cadangan devisa secara berlebihan.
"Dalam kondisi seperti ini, kepercayaan investor tidak dibangun dari roadshow, melainkan dari kredibilitas kebijakan yang konsisten, terukur, dan dapat diverifikasi serta diuji oleh pasar," ujarnya.
"Tanpa langkah nyata tersebut, pertemuan dengan investor global hanya menjadi signal without structural substance (sinyal tanpa substansi struktural), yang efeknya cepat hilang begitu pasar kembali membaca data fundamental," imbuh Rizal.
Sebelumnya, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa meyakinkan sejumlah investor global, di antaranya HSBC Global Asset Management, Lazard AM, Blackrock, Lord Abbett, dan TD Asset Management soal ketahanan fundamental makroekonomi serta strategi fiskal Indonesia dalam pertemuan di New York dan Washington DC, Amerika Serikat.
"Pada dasarnya kita jelaskan kondisi ekonomi dan strategi fiskal kita ke depan, jadi mereka yakin bahwa gerakan atau kebijakan fiskal kita sudah pada arah yang benar," kata Purbaya dalam keterangan tertulisnya.
Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan di hadapan para investor global dalam rangkaian IMF Spring Meeting 2026 di Amerika Serikat bahwa bauran kebijakan Indonesia on track atau berada pada arah yang tepat.
Bauran kebijakan berfokus pada stabilitas dan ketahanan eksternal melalui pengelolaan suku bunga, intervensi valuta asing, serta penguatan likuiditas domestik, yang didukung oleh komitmen fiskal menjaga defisit di bawah 3 persen PDB melalui reformasi subsidi dan realokasi anggaran yang lebih produktif.
"Kami terus memastikan bauran kebijakan yang konsisten dan responsif untuk menjaga stabilitas serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global,” kata Perry, juga dari keterangan resminya.
Baca juga: Ekonom: Kunjungan Menkeu ke AS redam kekhawatiran terhadap fiskal RI
Baca juga: Bertemu IMF, Menkeu pastikan RI punya bantalan fiskal memadai
Baca juga: BI sebut IMF apresiasi konsistensi Indonesia jaga stabilitas ekonomi
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































