Mahasiswa tawarkan solusi kebijakan atasi polusi udara lewat kompetisi

1 hour ago 4

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah mahasiswa dari berbagai universitas menawarkan sejumlah kebijakan untuk mengatasi polusi udara dan mendukung langkah pemerintah mengatasi pencemaran udara perkotaan melalui kompetisi Biru Voices: Clean Air Policy Competition 2026.

Dalam keterangan diterima di Jakarta, Sabtu, Akademisi Universitas Indonesia dan mantan Juru Bicara Presiden SBY 2009-2014, Julian Aldrin Pasha, menilai proses pembelajaran dalam kompetisi penting dalam membentuk generasi muda sebagai Clean Air Advocates.

"Yang kita saksikan hari ini di sini adalah satu penampilan yang luar biasa, saya kira, dari gabungan bagaimana ide itu bisa dipresentasikan di dalam satu presentasi yang utuh yang melibatkan semua. Seperti yang kita ketahui, kompetisi hari ini kan itu melibatkan beberapa komponen dan itu memang sangat baik untuk memperlihatkan bagaimana public concerns coba diangkat dan coba untuk dijelaskan dan dicarikan solusinya dalam bentuk policy brief,” ujar Julian.

Hal itu disampaikannya usai melihat paparan 10 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia menghadirkan rekomendasi kebijakan untuk menjawab tantangan pencemaran udara perkotaan yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam memperkuat upaya pengendalian pencemaran udara di Gedung Grha Ali Sadikin, Kompleks Balai Kota Provinsi DKI Jakarta, pada Kamis (3/9).

Baca juga: Udara Jakarta tak sehat bagi kelompok sensitif pada Sabtu pagi

Para finalis sendiri memaparkan gagasan di hadapan dewan juri yang berasal dari berbagai latar belakang yaitu Wibi Andrino selaku Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Marulina Dewi, Dara Nasution sebagai Deputy Head of Standing Committee for Tech and Digital KADIN, Julian Aldrin Pasha yang meruapakan kademisi Universitas Indonesia dan mantan Juru Bicara Presiden SBY 2009–2014. Wendy Haryanto sebagai Research Fellow Georgetown SFS Asia Pacific sekaligus Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute serta Dian A. Purbasari, yang merupakan Direktur Yayasan Bakti Barito.

Direktur Yayasan Bakti Barito Dian A. Purbasari sebagai salah satu juri juga mengapresiasi pendekatan kompetisi yang mendorong mahasiswa menghasilkan solusi dan inovasi berdasarkan proses analisis yang konkret.

"Pendekatan analitis para mahasiswa dalam merumuskan rekomendasi kebijakan yang konkret membuktikan bahwa generasi muda kita bukan sekadar pengamat, melainkan inovator yang siap memberikan kontribusi nyata bagi masa depan udara bersih di Indonesia." ujar Dian.

Dalam kompetisi itu Tim Duarr dari Politeknik Keuangan Negara STAN berhasil meraih Juara 1 melalui gagasan “Dual Track Decarbonization: Menata Insentif dan Disinsentif Pengendalian Polusi Udara di Jabodetabek”.

Tim tersebut mengangkat tantangan pengendalian polusi udara yang selama ini masih bertumpu pada regulasi tanpa dukungan insentif dan mekanisme pembiayaan yang memadai, dengan mendorong kombinasi insentif dan disinsentif fiskal untuk memperkuat pengendalian emisi di Jabodetabek.

Sementara itu, Tim APPA dari Institut Teknologi Bandung meraih Juara 2 dengan rekomendasi “Pengendalian Emisi Industri Berbasis Data dan Penataan Ruang di Cekungan Bandung”, yang mengangkat persoalan yang mengangkat persoalan penumpukan polutan di Cekungan Bandung, salah satunya akibat emisi industri yang terperangkap oleh kondisi topografi cekungan.

Baca juga: Dokter: Kualitas udara buruk dapat tingkatkan risiko kanker paru

Baca juga: Malaysia catat lonjakan kasus asma dan ISPA di tengah kabut asap

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |