Tokyo (ANTARA) - Korea Utara menuduh Korea Selatan menerbangkan drone pengintai ke wilayah udaranya pada akhir pekan lalu dan memperingatkan bahwa Seoul tidak akan pernah bisa menghindari tanggung jawab atas eskalasi ketegangan dan akan dipaksa membayar harga mahal.
Kantor berita Korean Central News Agency (KCNA) pada Sabtu turut melaporkan bahwa Pyongyang juga mengklaim insiden serupa pernah terjadi pada September lalu.
Staf Umum Tentara Korea Utara melalui pernyataan yang dirilis Jumat (9/1), menyebut tindakan Korea Selatan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Korea Utara.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Korea Selatan membantah klaim Korea Utara tersebut dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyerukan penyelidikan menyeluruh.
Militer Korea Utara menyatakan telah melacak sebuah drone yang bergerak ke arah utara di atas Kabupaten Kanghwa, Incheon, dekat Seoul, pada Minggu lalu. Drone itu dibiarkan melintasi perbatasan sebelum akhirnya dijatuhkan menggunakan perangkat peperangan elektronik khusus di dekat kota Kaesong.
Menurut KCNA, drone yang dilengkapi perangkat pengintaian tersebut merekam video sejumlah wilayah di Korea Utara. Hasil analisis menunjukkan drone itu dirancang untuk terbang sejauh total 156 kilometer pada ketinggian hingga 300 meter selama tiga jam 10 menit. KCNA juga merilis foto pesawat nirawak tersebut.
Pyongyang turut mengklaim bahwa sebuah drone Korea Selatan telah mengumpulkan data di wilayah Korea Utara pada September, sebelum terkena serangan elektronik militer Korea Utara di atas Kaesong saat dalam perjalanan kembali ke Selatan.
Pada Oktober 2024, Korea Utara juga menuduh Korea Selatan melakukan penyusupan menggunakan drone untuk menyebarkan sejumlah besar “selebaran propaganda” di atas Pyongyang.
Militer Korea Utara mengatakan bahwa Korea Selatan terus melakukan provokasi sejak pergantian pemerintahannya pada Juni. Pyongyang juga menyebut Seoul sebagai musuh abadi.
“Seoul ada musuh yang paling bermusuhan terhadap kami, yang sifatnya tidak akan pernah berubah, dan menjadi objek yang pasti akan kami hancurkan jika menyerang,” bunyi pernyataan militer tersebut.
Adapun Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung diketahui telah mengambil sejumlah langkah untuk meredakan ketegangan antar Korea, menyusul kebijakan konfrontatif yang diterapkan oleh pendahulunya, Yoon Suk Yeol.
Sumber: Kyodo-OANA
Baca juga: Krisis geopolitik jadi alasan Pyongyang gelar uji coba rudal terbaru
Baca juga: Presiden China-Korsel bertemu, tegaskan stabilitas hubungan dua negara
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































