Batam (ANTARA) - Komisi VII DPR RI mempelajari keunggulan perguruan tinggi vokasi pariwisata di Kota Batam, Kepulauan Riau, sebagai pertukaran informasi untuk mendukung pengembangan perguruan tinggi pariwisata yang dikelola pemerintah.
Rombongan Komisi VII yang dipimpin oleh Saleh Partaonan Daulay tersebut membawa serta mitra kerja dari Kementerian Pariwisata serta pemda terkait ke Politeknik Pariwisata Batam/Batam Toursm Polytechnic (BTP), Selasa.
“Tujuan kami datang untuk mengetahui apa saja kegiatan yang mereka (BTP) lakukan, bagaimana mengelola sekolah vokasi ini, bagaimana melakukan kegiatan-kegiatan kampus, termasuk menyeleksi para mahasiswa dan menempatkannya magang hingga ke luar negeri,” kata Saleh.
Dalam kunjungan tersebut, Saleh memberikan nilai “A” untuk BTP yang memiliki banyak keunggulan dari perguruan tinggi pariwisata di bawah Kementerian Pariwisata. Seperti laboratorium pendidikan yang bertaraf internasional, serta lulusannya yang banyak diterima bekerja di luar negeri.
Selain itu, Komisi VII melihat keberpihakan atau dampak ekonomi keberadaan kampus pariwisata swasta terhadap masyarakat sekitar.
Menurut Soleh, kunjungan kerja spesifik ini terkait dengan tugas Komisi VII yang bermitra dengan Kementerian Pariwisata.
“Kementerian Pariwisata itu salah satu mitra Komisi VII yang anggarannya besar Rp1,4 triliun. Di mana dari Rp1,4 triliun itu Rp600 miliar diantaranya dipergunakan untuk mengelola politeknik pariwisata yang ada di Indonesia,” katanya.
Dia menyebut, ada enam politeknik pariwisata di bawah Kementerian Pariwisata yakni Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Politeknik Pariwisata Makassar, Politeknik Pariwisata Medan, Politeknik Pariwisata Palembang, Politeknik Pariwisata Lombok, dan Politikenik Pariwisata Bali.
Dari Rp600 miliar itu, sambung dia, digunakan untuk membiayai segala macam kegiatan civitas akademika yang ada di enam kampus tersebut.
“Tentunya kunjungan ini menjadi sangat menarik dan bagus, padahal kampus ini tidak dibiayai APBN,” ujarnya.
Soleh berharap dari kunjungan ini nantinya menjadi bahan pihaknya untuk mendorong agar ada pertukaran ilmu antara politeknik pariwisata swasta dan negeri agar bisa saling mendukung dalam menghasilkan lulusan yang berdaya saing.
Menurut dia yang membendakan keunggulan politeknik pariwisata swasta dengan yang dikelola pemerintah salah satunya adalah etos kerja yang dimiliki.
“Politeknik pemerintah ini kan karena sudah digaji oleh negara, jadi para pengajar dan karyawannya tidak punya beban “income” kampus dari mahasiswa, karena itu jadi pembedanya,” ujar Soleh.
BTP didirikan oleh mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur tahun 2014. Saat ini telah melahirkan 600 lulusan yang telah diterima bekerja di banyak negara, seperti Maldive, Dubai, Hongkong, dan UEA.
Asman mengatakan komitmen mendirikan perguruan tinggi vokasi bidang pariwisata ini agar Indonesia tidak hanya mengirimkan asisten rumah tangga ke luar negeri, tapi tenaga kerja profesional yang berdaya saing tinggi.
“Jadi obsesi kami jangan lagi kirim pembantu ke luar negeri, Sekarang kami mengirim wellness di bidang spa, itu yang menjadi kekuatan Batam ke depan,” kata Asman.
Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































