Komisi VII DPR nilai Indonesia bisa ciptakan tren fesyen sendiri

21 hours ago 6

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VII DPR Samuel Wattimena menilai Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan untuk menciptakan tren fesyennya sendiri melalui kekayaan dan keberagaman bangsa.

"Kita bangsa besar, tapi persoalannya adalah kita tidak menyadari kelebihan kita sehingga mengikuti tren luar. Kita harus mandiri, punya harga diri dan bisa menghargai diri," kata Samuel saat berkunjung ke ANTARA Heritage Center di Jakarta, Kamis.

Samuel yang juga bekerja sebagai perancang busana itu mengatakan Indonesia memiliki kekuatan yang terletak pada keberagaman kain wastra dengan yang dibuat dengan cap, teknik serta makna uniknya masing-masing.

Keunikan yang berbeda dari tiap daerah menjadikan wastra sebagai sesuatu yang eksklusif dan bernilai tinggi.

Berbeda dengan luar negeri yang menciptakan tren karena industri tekstilnya yang besar. Hal ini mendorong pihak luar menggelar sebuah pertunjukan untuk memperkenalkan dan menjual produknya.

"Sehingga untuk memasarkan ini, mereka butuh tren show, yang kemudian dikawinkan dengan para desainer mereka untuk mendukung tekstilnya. Kita bukan begitu, gaya kita adalah mengkonsolidasi masyarakat dengan pendekatan yang berbeda," katanya.

"Karena yang namanya batik ini, kan dia eksklusif. Kalau kemudian motif yang sama dibuat 300 meter, kehilangan nilai dari keunikan tradisionalnya," tambahnya.

Sedangkan digelarnya pertunjukan mode, menurut Samuel, dilakukan untuk penetrasi produk dan mendapatkan sorotan dari media. Seakan menciptakan persepsi masyarakat yang tidak mengikuti model atau warna yang ada dalam acara, akan dianggap tidak mengikuti tren terkini.

Baca juga: Tren fesyen di tahun 2026 menurut para desainer India

Ia juga menyampaikan pulau-pulau di Indonesia yang dipisahkan oleh jarak dan lautan sebenarnya dapat menaikkan nilai eksklusif dari produk yang dijual dalam skala global.

Perajin di daerah tersebut dapat membuat produk fesyen yang menggunakan pendekatan "slow fashion" atau setidaknya memenuhi kebutuhan di wilayah setempat. Cara ini akan meningkatkan permintaan dan minat pengunjung dari luar daerah untuk mendapatkan produk serupa.

"Kalau orang ingin belanja, mencari sesuatu, mereka akan mencari yang tidak mereka punya, jadi begitu kita ke Sulawesi Utara misalnya, sebagai orang Jawa kamu akan punya keinginan untuk memiliki barang itu dan pasti mencarinya," kata Samuel.

Maka dari itu, ia mengimbau agar pelaku industri fesyen sampai perajin kain wastra untuk tidak terhasut mengikuti cara dan tren dari luar.

Ia juga meminta agar para perajin dan penenun tidak merendahkan diri dengan hanya melihat penampilan pelaku industri asing lebih banyak bekerja dengan laptop atau gawai lainnya.

Samuel menekankan hal yang terpenting adalah menghargai budaya dan kemampuan diri sendiri untuk mengangkatnya menjadi sesuatu yang bernilai jual.

Baca juga: Kembalikan esensi "thrifting"

Baca juga: Program Inkubasi Fesyen 2025 bantu jenama lokal naik kelas

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |