Surabaya (ANTARA) - Keselamatan sebuah kota tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kepedulian warganya.
Kota besar, seperti Surabaya, hidup dalam ritme yang cepat, di mana mobilitas tinggi dan kepadatan permukiman membuat potensi keadaan darurat selalu ada.
Dalam kondisi seperti ini, kecepatan respons menjadi faktor krusial untuk meminimalkan dampak yang mungkin timbul.
Pemerintah Kota Surabaya sejak 2016 telah mengembangkan sistem tanggap darurat terpadu melalui layanan "Command Center 112".
Sistem ini memungkinkan masyarakat melaporkan berbagai kejadian darurat secara cepat, yang kemudian ditindaklanjuti oleh berbagai instansi terkait yang ada di Pemerintah Kota Surabaya.
Instansi itu, seperti Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI), tim medis, aparat keamanan, hingga instansi lain yang memiliki kewenangan dalam penanganan keadaan darurat.
Keberhasilan sistem tersebut tidak hanya ditentukan oleh kesiapan pemerintah dan teknologi yang digunakan.
Dalam praktiknya, peran warga menjadi bagian penting untuk memastikan sistem ini berjalan efektif.
Laporan dari masyarakat sering kali menjadi titik awal yang memungkinkan petugas bergerak cepat, sebelum situasi berkembang menjadi lebih besar.
Peran warga
Sejumlah kejadian yang terjadi di Surabaya, dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bagaimana partisipasi warga menjadi faktor penting dalam penanganan kegawatdaruratan.
Peristiwa yang menunjukkan pentingnya respons cepat juga terjadi pada Selasa, (10/3), di kawasan Sambikerep. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dilaporkan tenggelam di waduk di belakang kantor kelurahan itu.
Laporan diterima sekitar pukul 12.25 WIB dan tim penanganan darurat tiba di lokasi sekitar enam menit kemudian untuk melakukan pencarian. Petugas dari BPBD Kota Surabaya bersama unsur terkait segera melakukan penyisiran di lokasi kejadian dengan teknik penyelaman manual.
Setelah dilakukan pencarian, korban akhirnya berhasil ditemukan di dasar waduk dengan jarak sekitar tiga meter dari titik awal tenggelam. Tim kemudian mengevakuasi korban, sebelum dilakukan proses identifikasi oleh petugas kepolisian. Jenazah selanjutnya dibawa ke kamar jenazah Rumah Sakit Dr Soetomo menggunakan ambulans PMI, dengan didampingi pihak keluarga.
Peristiwa lainnya, pada Minggu, 8 Maret 2026, misalnya, kebakaran terjadi di satu rumah dua lantai di Jalan Rembang, Kelurahan Dupak, Kecamatan Krembangan.
Laporan dari warga diterima pada pukul 13:41 WIB. Hanya lima menit kemudian, petugas pemadam kebakaran sudah tiba di lokasi untuk melakukan penanganan.
Api yang diduga berasal dari korsleting listrik, saat pengisian daya telepon genggam, akhirnya berhasil dipadamkan pada pukul 14:03 WIB, sebelum dinyatakan benar-benar kondusif sekitar pukul 14:24 WIB.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa informasi yang cepat dari warga menjadi faktor penting dalam mencegah kebakaran meluas.
Mengingat bangunan rumah memiliki lantai berbahan papan, potensi perambatan api sebenarnya cukup tinggi. Karena laporan diterima lebih awal, petugas dapat segera melakukan pemadaman, sebelum api menjalar ke bangunan lain.
Sehari sebelumnya, kebakaran juga terjadi di kawasan Jalan Bumiarjo Gang V, Kecamatan Wonokromo. Rumah semi permanen yang terbakar diduga mengalami korsleting listrik di bagian dapur.
Laporan warga diterima pukul 11:59 WIB dan unit pemadam tiba di lokasi sekitar empat menit kemudian.
Meskipun kondisi gang sangat sempit, sehingga kendaraan pemadam harus berhenti sekitar 200 meter dari lokasi kejadian, koordinasi antara petugas dan warga sekitar membuat proses pemadaman tetap dapat dilakukan dengan cepat.
Kasus lain juga memperlihatkan bagaimana laporan masyarakat membantu penanganan situasi darurat di luar kebakaran.
Pada 26 Februari 2026, seorang warga di kawasan Tembok Dukuh tertimpa tandon air yang ambruk di dalam kamar mandi rumahnya.
Penyangga tandon yang diduga sudah rapuh tidak mampu menahan beban air, sehingga akhirnya runtuh dan menimpa korban.
Laporan warga membuat tim penyelamat segera datang ke lokasi untuk evakuasi, sebelum korban dirujuk ke rumah sakit.
Contoh lain terjadi pada 2 Maret 2026 di satu bangunan tinggi di kawasan Pakuwon Indah. Dua pekerja terjebak di gondola pada lantai 26, ketika cuaca buruk melanda, bahkan hal tersebut ramai dibicarakan oleh warganet di media sosial.
Angin kencang dan hujan membuat gondola tidak dapat turun dan bahkan terombang-ambing di ketinggian. Informasi yang cepat membuat tim penyelamat segera datang melakukan koordinasi dan evakuasi.
Proses penyelamatan berlangsung cukup lama, hingga akhirnya korban berhasil ditangani, meskipun satu pekerja dilaporkan meninggal dunia akibat terpental dari gondola.
Sementara itu, laporan masyarakat juga membantu petugas mengantisipasi potensi bahaya lain di lingkungan permukiman.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































