Jakarta (ANTARA) - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan platform media sosial dan video pendek TikTok Indonesia bekerja sama menggelar pelatihan vokasi digital dengan tajuk “BISA (Belajar dan Implementasi Skill Adaptif) Bareng TikTok” secara hibrida di Jakarta, Rabu.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli dalam acara peluncuran tersebut mengatakan langkah tersebut merupakan bentuk sinergi antara pemerintah dengan industri terkait untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat, sekaligus mengakselerasi kualitas talenta digital Indonesia.
“Kami membuka kerja sama dengan semua pihak selama ini memberikan kemanfaatan bagi masyarakat sesuai dengan peraturan, sesuai dengan tata kelola kami di Kementerian Ketenagakerjaan,” kata Yassierli.
Ia berharap, dengan lebih terbukanya akses masyarakat untuk mengakses pelatihan digital yang relevan seperti membuat konten, hingga masuk ke e-commerce melalui berbagai platform, dapat menjadi salah satu opsi pekerjaan yang bisa dilakukan secara lebih mudah dan fleksibel.
“Semoga ini bisa menjadi satu skill baru yang bisa terus dikembangkan, yang bisa menjadi salah satu alternatif terkait dengan pekerjaan, walaupun bisa untuk temporary, yang bisa kita harapkan juga untuk meningkatkan kesejahteraan,” ujar Yassierli.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Binalavotas) Kemnaker Darmawansyah mengatakan kolaborasi peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di bidang teknologi digital penting agar mampu adaptif di tengah tantangan ketenagakerjaan secara global.
“Kerja sama meliputi penyusunan analisis penghubungan pelatihan, pengembangan program pelatihan dan kurikulum, penyediaan sarana dan prasarana pelatihan, peningkatan kapasitas instruktur,“ kata Darmawansyah
“Yang kedua, program pelatihan BISA Bareng TikTok pada hari ini merupakan implementasi dari kerja sama tersebut dalam rangka peningkatan kompetensi SDM yang bidang digital,” katanya menambahkan.
Di sisi lain, Head of Public Policy and Government Relations TikTok Indonesia Hilmi Adrianto mengatakan, pelatihan itu dilakukan dalam satu hari secara hibrida, diikuti oleh 400 orang peserta yang hadir secara luring, dan kurang lebih 1.000 orang peserta yang hadir secara daring.
“Kami ingin berkontribusi dalam membangun ekosistem yang lebih inklusif di mana masyarakat tidak hanya memiliki akses terkait teknologi, tapi juga memiliki pembangunan yang baik untuk memanfaatkannya,” ujar Hilmi.
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































