Kemlu berupaya pulangkan WNI yang terjebak di Yaman

21 hours ago 9

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI berupaya memulangkan tiga WNI yang terjebak di Pulau Sokotra, Yaman, pada 3 Januari 2026, akibat penutupan wilayah udara oleh pemerintah Arab Saudi.

“Mereka terjebak di Sokotra akibat wilayah udara di Yaman ditutup oleh pemerintah Saudi pada saat serangan militer ke pelabuhan Makala Yaman pada 30 Desember lalu,” kata Plt. Direktur Pelindungan WNI (PWNI) Kemlu RI Heni Hamidah dalam taklimat media di Jakarta, Kamis.

Menurut Heni, para WNI itu masuk ke Sokotra melalui jasa operasi wisata tur Sokotra yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA) dan tidak dapat keluar dari sana karena tidak ada penerbangan yang beroperasi.

Hingga Kamis, lanjut Heni, berdasarkan pemantauan terakhir, pihak Kemlu masih berkomunikasi dengan para WNI tersebut dan menyatakan bahwa mereka dalam keadaan baik, sehat, dan aman.

Heni melanjutkan, mulai 7 Januari penerbangan di Yaman sudah mulai dibuka, dan Kemlu RI berupaya agar para WNI tersebut dapat segera pulang ke Indonesia dengan penerbangan hari ini dan besok.

“Perwakilan kita di Muscat maupun Abu Dhabi tengah mendorong agar ketiga WNI tersebut bisa ikut dalam penerbangan tersebut dan tentunya kita akan terus mengawal kasus ketiga WNI,” ujar Heni.

Pada kesempatan yang sama, Juru bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela menyampaikan Indonesia menyambut baik upaya dari Kerajaan Arab Saudi yang memfasilitasi penyelenggaraan konferensi-konferensi di Riyadh.

“Tujuannya adalah untuk mengupayakan adanya dialog yang inklusif melibatkan berbagai elemen di Yaman untuk bisa mengupayakan perdamaian dan juga untuk tetap memperhatikan integrasi wilayah di Yaman,” ujarnya.

Baca juga: Kemlu serukan pihak berkonflik di Yaman mengedepankan dialog inklusif

Nabyl juga menyampaikan bahwa Kemlu RI meminta WNI menghindari wilayah konflik, dan menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ada laporan WNI menjadi korban di Yaman Selatan.

Pemerintah RI juga terus memantau situasi yang belum kondusif, khususnya di wilayah selatan, dan menyatakan bahwa prioritas utama pemerintah adalah keselamatan dan keamanan WNI serta mendorong penyelesaian damai tanpa konflik, ujarnya.

Situasi Yaman meningkat sejak 30 Desember setelah pasukan STC merebut kendali Hadramaut dan Al-Mahra pada awal Desember, di mana kedua provinsi tersebut mencakup hampir setengah wilayah Yaman dan berbatasan langsung dengan Arab Saudi.

Arab Saudi menuding UEA mendorong STC beroperasi militer di perbatasan selatan Hadhramaut dan Al-Mahra yang kemudian dibantah Abu Dhabi.

STC menilai pemerintah Yaman meminggirkan selatan dan menyerukan pemisahan, sementara otoritas menegaskan komitmen persatuan.

Baca juga: Serangan udara koalisi Arab di Yaman tewaskan 20 orang di Ad Dali

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |