Kemenkes soroti pendekatan kesehatan holistik untuk haji lebih tenang

1 week ago 13
Petugas kesehatan haji kini dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi serius

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menyebutkan, menata ekspektasi dan pendekatan holistik menjadi hal penting agar jamaah haji mampu menerima dinamika ibadah dengan lebih tenang, khusyuk, sehingga ibadahnya penuh berkah.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan, haji 2026 menjadi salah satu perhelatan spiritual terbesar dengan lebih dari 1,8 juta jamaah dari seluruh dunia, termasuk 221.000 jamaah asal Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 11.000 adalah lansia yang menghadapi tantangan lebih berat, baik fisik maupun mental.

"Ibadah haji adalah puncak spiritual umat Islam, namun di balik makna religius yang mendalam, perjalanan ini juga membawa tantangan besar bagi kesehatan jiwa. Perubahan lingkungan, kepadatan jutaan jamaah, serta tekanan fisik dan emosional dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan mental," ujarnya di Jakarta, Rabu.

Laporan Kemenkes menunjukkan bahwa 10-15 persen jamaah membutuhkan perhatian khusus terkait kesehatan jiwa, sementara gangguan tidur dialami oleh 30-40 persen jamaah akibat perubahan ritme sirkadian dan aktivitas ibadah yang padat.

Baca juga: Saudi resmikan terminal keempat Inisiatif Rute Makkah di Indonesia

Data dari Balai Pengobatan Haji Indonesia menegaskan bahwa lansia adalah kelompok paling rentan, dengan 80 persen pasien gangguan jiwa yang dirawat menunjukkan gejala demensia.

Dia menyoroti cuaca di Makkah saat ini mencapai rata-rata 35–38 °C dengan kelembapan rendah, kondisi yang dapat memicu dehidrasi, kelelahan, dan gangguan tidur.

Kemudian, katanya, aturan baru dari pemerintah Saudi yang lebih ketat terkait visa, akses ke Makkah, serta penggunaan aplikasi digital Nusuk menambah lapisan tekanan psikologis, terutama bagi jamaah yang kurang terbiasa dengan teknologi atau khawatir akan sanksi berat bila melanggar.

Pelaksanaan tawaf dan sa’i yang intens dapat menimbulkan kelelahan emosional, sementara masa kepulangan menuntut adaptasi ulang setelah pengalaman spiritual yang intens. Faktor lain seperti perbedaan budaya, keterbatasan fasilitas, dan interaksi dalam kerumunan besar juga dapat menimbulkan rasa frustrasi dan isolasi.

Baca juga: Jamaah calon haji Subang mencapai 543 orang terbagi dalam dua kloter

"Semua ini menunjukkan bahwa persiapan mental dan penataan ekspektasi menjadi sama pentingnya dengan persiapan fisik, agar jamaah mampu menerima dinamika ibadah dengan tenang dan tidak terbebani oleh harapan yang terlalu tinggi," katanya.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, pendekatan holistik sangat diperlukan. Konseling pra-keberangkatan yang menyertakan pelatihan manajemen stres, pengaturan jadwal ibadah dengan waktu istirahat yang cukup, serta perhatian pada hidrasi dan nutrisi menjadi strategi utama.

Praktik relaksasi, doa, dan zikir terbukti membantu menenangkan pikiran, sementara dukungan sosial dari sesama jamaah menciptakan rasa kebersamaan yang meredakan kecemasan.

"Petugas kesehatan haji kini dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi serius," ujarnya.

Dengan kesiapan mental yang matang, ekspektasi yang realistis, disiplin mengikuti aturan, serta dukungan keluarga dan komunitas, ibadah haji 2026 diharapkan dapat dijalani dengan lebih tenang, khusyuk, dan penuh keberkahan.

Baca juga: Kemenimipas jamin kelancaran layanan selama penyelenggaraan haji 2026

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |