Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mengatakan perluasan layanan kesehatan mental berbasis web dapat mengatasi sejumlah tantangan dalam penyediaan layanan kesehatan, seperti keterbatasan akses dan marak stigma kasus itu, sehingga perlu inovasi guna mengembangkan jenis layanan tersebut.
"Tantangan kesehatan mental sangat kompleks karena faktornya beragam. Biologis, psikologis, dan sosial," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi di Jakarta, Kamis.
Oleh karena itu, ia mengapresiasi Universitas YARSI yang menjalin kerja sama dengan platform This Way Up dari Australia melalui lokakarya guna adopsi pengetahuan agar pengembangan itu dapat tercapai dan layanan kesehatan di Indonesia menjadi lebih inklusif.
Ia menjelaskan dua persen dari orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Selain itu, 1,4 persen mengalami depresi, sedangkan sebagian besar dari kalangan usia 15-24 tahun.
Dia juga menyebutkan empat di antara 1.000 orang mengalami skizofrenia.
Baca juga: Dukungan keluarga jadi kunci keseimbangan ibu bekerja
Seringkali para penderita masalah kesehatan jiwa tidak mendapatkan layanan yang dibutuhkan, karena keterbatasan akses, kurangnya tenaga profesional, serta stigma.
"Selain itu, akhir-akhir ini, kita tahu bahwa beberapa daerah di Indonesia terdampak bencana, dan itu akan menyebabkan tantangan kesehatan jiwa, seperti depresi, kecemasan, dan lain-lain," katanya.
Oleh karena tantangan-tantangan seperti itu, katanya, banyak yang menggunakan layanan konsultasi berbasis web dibandingkan dengan konsultasi tatap muka.
Hal tersebut, ujar dia, menunjukkan perlunya inovasi dalam alternatif layanan.
"Hal ini sesuai dengan transformasi kesehatan," kata Imran.
Sebagai bentuk komitmen untuk memperluas layanan kesehatan, pihaknya memperluas akses layanan kesehatan di fasilitas kesehatan primer, komunitas, melalui program-program yang bertujuan memperkuat ketahanan serta menciptakan lingkungan yang suportif.
Dalam kesempatan yang sama, dosen dan peneliti kesehatan mental Fakultas Psikologi Universitas YARSI Ratih Arruum Listiyandini mengatakan pihaknya berinisiatif menemukan model layanan kesehatan alternatif yang bisa menjangkau lebih banyak orang, mengingat isu kesehatan jiwa menjadi salah satu faktor penyebab disabilitas yang paling besar yang memengaruhi produktivitas seseorang.
Dia menjelaskan pendekatan konsultasi berbasis web lebih cocok untuk diterapkan pada kelompok yang sudah punya literasi digital yang cukup baik, yaitu anak-anak muda.
"Tapi ada kemungkinan juga ke depannya jika nanti kami mendapatkan support yang lebih banyak dari segi pendanaan, dari segi infrastruktur dan sebagainya, kita akan menilai juga seperti apa sebetulnya layanan kesehatan mental digital yang bisa digunakan pada populasi lain di luar dari anak-anak muda," katanya.
Pihaknya berharap, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, dapat mendukung inisiatif itu, mulai dengan mendengarkan saran-saran yang terkandung dalam policy brief serta membantu dalam hal implementasi, agar layanan itu berkelanjutan.
Baca juga: Kebiasaan yang bisa diterapkan demi kesehatan mental dan otak
Baca juga: Tanggapi anak bunuh ibu, Arifah: Perhatikan kesehatan mental keluarga
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































