Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama akan mengisi bulan suci Ramadhan dengan berbagai program yang bertajuk Joyful Ramadhan yang akan menjadi momentum strategis untuk memperkuat kedekatan umat Islam dengan ajaran agamanya sekaligus memperkuat harmoni sosial dan kebangsaan.
“Kita mengambil momentum untuk memacu bagaimana agar kedekatan antara umat dengan agamanya, khususnya umat Islam, dapat semakin terbukti,” ujar Staf Khusus Menteri Agama Ismail Cawidu di Jakarta, Selasa.
Ismail mengatakan Ramadhan diposisikan sebagai ruang transformasi ritual, spiritual, sosial, dan kebangsaan, bukan semata-mata ibadah individual.
“Ramadhan memiliki makna ibadah yang menggembirakan, kebersamaan sosial, dan produktivitas keberagaman yang berdampak pada penguatan moderasi beragama, harmoni sosial, serta pelayanan publik keagamaan yang humanis,” kata dia.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Abu Rokhmad mengatakan konsep Joyful Ramadhan menekankan ibadah yang dilaksanakan dengan rasa gembira karena mengandung rahmah, ketenangan, dan optimisme.
Baca juga: Menag tegaskan komitmen pemerintah jamin kemudahan beribadah
Selain itu, Ramadhan juga menjadi ruang penguatan solidaritas, kepedulian, dan inklusivitas sosial, serta menghadirkan aktivitas edukatif dan solutif bagi masyarakat.
Dari sisi kelembagaan, kata dia, bulan Ramadhan merupakan momentum penting bagi Direktorat Jenderal Bimas Islam untuk mengoptimalkan perannya melalui tiga fokus utama, yakni penguatan layanan keberagamaan, literasi keislaman yang mencerahkan, serta pemberdayaan sosial dan ekonomi umat.
Dalam penguatan layanan keberagamaan, Bimas Islam mengoptimalkan peran masjid sebagai pusat ibadah dan pemberdayaan umat, Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai simpul pembinaan keluarga sakinah, serta penyuluh agama sebagai agen literasi keagamaan.
“Standar layanan selama Ramadhan mencakup bimbingan ibadah, konsultasi keluarga, serta edukasi zakat, wakaf, dan filantropi,” ujar Abu Rokhmad.
Sementara itu, literasi keislaman diwujudkan melalui narasi dakwah Ramadhan yang ramah, moderat, serta menolak hoaks dan ekstremisme.
“Seluruh konten dakwah digital Ramadhan dipantau agar disajikan secara bertanggung jawab dan sejalan dengan koridor moderasi beragama,” kata Abu Rokhmad.
Ia juga menyebutkan bahwa Bimas Islam mendorong kajian tematik dakwah Ramadhan yang mencakup isu keluarga, ekonomi, dan kebangsaan, serta memperkuat kolaborasi dengan ulama, akademisi, dan komunitas Islam.
Pada aspek pemberdayaan sosial dan ekonomi umat, Abu Rokhmad mengatakan Ramadhan dimanfaatkan untuk optimalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif. Berbagai program seperti bazar Ramadhan, gerakan berbagi, serta dukungan bagi UMKM berbasis masjid digalakkan sebagai upaya pengentasan kemiskinan spiritual dan material.
Ia berharap pelaksanaan Joyful Ramadhan dapat memberikan dampak nyata, mulai dari meningkatnya kualitas ibadah dan akhlak, menguatnya solidaritas sosial, meningkatnya ketahanan keluarga, hingga bertumbuhnya ekonomi umat melalui filantropi produktif.
“Ramadhan juga berdampak pada penguatan moderasi dan harmoni kebangsaan, termasuk keterlibatan lintas agama dalam semangat kebersamaan,” ujarnya.
Abu Rokhmad menegaskan Joyful Ramadhan menegaskan kehadiran Kementerian Agama sebagai pelayan umat, penggerak harmoni, dan penjaga nilai-nilai keagamaan yang damai.
“Kami berharap Ramadhan melahirkan umat yang saleh secara spiritual, kuat secara sosial, dan berkontribusi nyata bagi bangsa Indonesia,” katanya.
Baca juga: Kemenag ajukan anggaran tambahan bayar tunjangan profesi guru-dosen
Baca juga: KMA 1644 terbit, Penyuluh agama Islam bisa jadi kepala KUA
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































