Kala campak mengintai balita

5 hours ago 1
Ketika setiap anak terlindungi dari campak, ketika keluarga memahami pentingnya imunisasi lengkap, ketika layanan kesehatan bergerak tanpa henti menjangkau seluruh desa, maka mimpi tentang generasi sehat bukanlah sekadar mimpi.

Mataram (ANTARA) - Sepasang mata balita itu tampak lelah. Ia menatap ke arah senja yang mulai merunduk di balik pegunungan Sumbawa, sementara tubuhnya yang ringkih masih bergulat dengan demam tinggi.

Ruam merah menyebar di kulitnya, pertanda campak yang tengah merundung banyak anak di Nusa Tenggara Barat (NTB). Di sejumlah kabupaten, jumlah kasus terus naik signifikan.

Di Kabupaten Dompu, kasus suspek campak mencapai 216 anak pada awal 2026, belum termasuk yang perawatan intensif di rumah sakit. Di Kabupaten Bima, status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak sudah ditetapkan setelah 306 kasus dan satu kematian dilaporkan.

Sementara itu, di Kota Mataram, strategi imunisasi agresif justru berhasil mempertahankan nol kasus di wilayah itu.

Ini bukan sekadar angka. Di dalam data itu tersimpan kisah ketidakpastian orang tua, perjuangan petugas kesehatan, dan tantangan yang menguji sistem imun masyarakat.

Campak yang kerap dianggap “penyakit anak biasa” seharusnya menjadi kenangan jauh di masa lalu. Namun kenyataannya, wabah ini muncul kembali, seakan mengingatkan kita bahwa kemajuan kesehatan tidak pernah datang begitu saja.

Tulisan ini mengajak pembaca menelisik lebih jauh fenomena campak di NTB, bagaimana ia kembali mengancam, apa yang menjadi pemicunya, serta solusi nyata yang bisa dilakukan bersama untuk mencegahnya.

Baca juga: Jangan asal sentuh anak saat Lebaran, dokter ingatkan bahayanya


Ancaman campak

Campak, secara medis dikenal sebagai morbili, adalah penyakit yang sangat mudah menular. Virus ini dapat berpindah melalui droplet dari batuk, bersin, bahkan sekadar berbicara di ruang tertutup.

Masa inkubasi yang bisa mencapai tiga minggu membuat penyebaran penyakit ini sulit dideteksi dini. Gejala khasnya seperti demam tinggi disertai batuk, pilek, mata merah, dan ruam makulopapular mudah dikenali, namun begitu banyak anak berisiko tinggi mengalami komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, dan radang otak.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |