Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT KAI (Persero) Bobby Rasyidin mengatakan, satu gerbong kereta rel listrik (KRL) dipadati oleh sekitar 300 penumpang saat peak hour atau jam sibuk.
“Perlu digarisbawahi, pada saat ini, satu gerbong pada peak hour itu penumpangnya sekitar 300 orang,” ucap Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin.
Apabila dilihat dari ukuran gerbong dengan luas sekitar 60 meter persegi, lanjut dia, maka dalam 1 meter persegi dipadati oleh 5 orang.
Dia menyampaikan, kepadatan tersebut akan terus bertambah dan mencapai 6 kali lipatnya pada 2030 apabila armada KRL tak segera ditambah.
Baca juga: KAI proyeksi volume penumpang KRL naik jadi 437 juta pada 2030
“Kepadatan penumpang pada KRL mengakibatkan penurunan tingkat kenyamanan penumpang dan peningkatan risiko terhadap keamanan penumpang,” ucap Bobby.
Lebih lanjut, ia menyebutkan stasiun-stasiun yang menjadi titik kepadatan penumpang, yakni Stasiun Bogor, Stasiun Depok, dan Stasiun Bekasi untuk stasiun-stasiun yang berada di luar Jakarta.
Sedangkan, untuk stasiun di Jakarta, terdapat empat stasiun yang menurutnya sangat padat, yakni Stasiun Sudirman, Stasiun Manggarai, Stasiun Tanah Abang, dan Stasiun Sudirman Baru.
Ketika menyampaikan paparan, Bobby mengambil contoh kepadatan KRL yang dihadapi oleh penumpang Green Line atau jalur Rangkasbitung.
Baca juga: Dirut KAI sebut masalah utang 'Whoosh' sudah temui solusi
“Memang saat ini, kereta yang ke sana (Rangkasbitung) itu headway-nya masih 10–15 menit. Belum bisa kami perpendek headway-nya karena memang ada permasalahan sistem dari kelistrikan, elektrifikasinya, dan juga signaling-nya,” katanya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Bobby menyampaikan pada 2026, KAI akan meningkatkan elektrifikasi 3 ribu kV menjadi 4 ribu kV.
“Kami juga akan upgrade signaling system-nya,” kata Bobby.
Diwartakan sebelumnya, KAI memproyeksi akan terjadi kenaikan volume penumpang kereta rel listrik (KRL), dari 339 juta penumpang sepanjang tahun 2025, menjadi 437 juta penumpang pada 2030.
Baca juga: KAI bidik 11 rangkaian kereta baru dari INKA beroperasi sebelum Juli
Kemudian, berdasarkan proyeksi volume penumpang, jika diasumsikan tidak terdapat pengadaan sarana hingga 2030, maka diperkirakan tingkat kepadatan saat jam sibuk atau peak hour mencapai enam kali lipat dari kepadatan saat ini.
“Sehingga, apabila tidak dilakukan penambahan sarana, tidak semua penumpang dapat terangkut dan tentunya berisiko pada aspek keselamatan,” ujar Bobby.
Oleh karena itu, untuk mengantisipasi kenaikan penumpang KRL pada 2030, Bobby menilai pengadaan sarana KRL dibutuhkan untuk menjamin keselamatan dan meningkatkan kenyamanan penumpang.
Baca juga: KAI catat angkut 452,65 juta pengguna lewat layanan kereta PSO
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































