Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla, menghadiri penandatanganan dan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Hajjah Yuliana di kawasan Laverton, Melbourne, Australia, Sabtu.
Dalam kesempatan tersebut, Jusuf Kalla menegaskan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat, pengembangan ilmu pengetahuan, dan kemajuan peradaban Islam.
Di hadapan masyarakat Muslim Indonesia di Australia, JK menyampaikan bahwa kemakmuran masjid ditentukan oleh tiga unsur utama, yakni pihak yang membangun, pengurus yang mengelola, serta jamaah yang memakmurkannya melalui berbagai aktivitas ibadah dan kemasyarakatan.
"Masjid akan benar-benar hidup apabila dibangun, dikelola dengan baik, dan dipenuhi jamaah yang beribadah serta melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu.
JK juga menilai keberadaan masjid di luar negeri memiliki fungsi yang lebih luas sebagai pusat persatuan komunitas Muslim Indonesia sekaligus penjaga identitas, budaya, dan peradaban bangsa di tengah masyarakat multikultural.
Ia mendorong umat Islam untuk tidak hanya memperdalam ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurutnya, kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi.
"Ibadah dan penguasaan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan. Umat Islam harus mampu melahirkan generasi yang menguasai teknologi agar mampu bersaing dan membangun peradaban," ujarnya.
Jusuf Kalla juga menekankan pentingnya peningkatan kesejahteraan ekonomi umat. Menurutnya, keberhasilan pembangunan ekonomi akan memperkuat kemampuan masyarakat dalam menjalankan kewajiban sosial keagamaan, termasuk zakat.
Sementara itu, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Melbourne, Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo, menyampaikan apresiasi atas terwujudnya pembangunan Masjid Hajjah Yuliana dan pengembangan Islamic Center Indonesia Community Victoria (ICV).
Menurut Yohannes, pembangunan tersebut menjadi tonggak penting bagi perkembangan komunitas Muslim Indonesia di Australia, sekaligus memperkuat peran ICV sebagai rumah besar yang mempersatukan masyarakat Indonesia di Victoria.
Ia berharap masjid dan pusat kegiatan Islam tersebut menjadi wajah Islam Indonesia yang ramah, toleran, serta mampu mempererat persaudaraan antarsesama.
"Semoga Masjid Hajjah Yuliana menjadi pusat ibadah, pendidikan, dan kegiatan sosial yang memberi manfaat bagi umat serta memperkuat hubungan masyarakat Indonesia di Australia," ucap Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo.
Prosesi peletakan batu pertama pembangunan Masjid Hajjah Yuliana dihadiri tokoh masyarakat, pengurus ICV, ulama, serta warga Muslim Indonesia di Australia. Pembangunan masjid ini diharapkan menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial, dan pembinaan generasi muda Muslim Indonesia di Victoria.
Adapun Masjid Hajjah Yuliana sendiri merupakan wakaf dari bapak Haji Yendra Fahmi, lahan yang diwakafkan tersebut adalah bekas kantor polisi wilayah Laverton yang dibelinya melalui lelang pada bulan April 2026 dengan luas 1.500 meter persegi.
Baca juga: Jusuf Kalla: Masjid harus makmurkan jamaah dan jadi pusat peradaban
Baca juga: Jusuf Kalla dan PGI tekankan peran agama sebagai agen perdamaian
Baca juga: JK bersama para pelaku sejarah Malino I-II sepakat jaga perdamaian
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































