Insiden di NTT, Istana: Kepala desa harus pantau aktif kelompok rentan

2 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, yang juga Juru Bicara Presiden RI, mengingatkan pemerintah daerah termasuk kepala desa dan kepala dusun untuk aktif selalu memantau keadaan warganya, khususnya mereka yang merupakan kelompok rentan.

Langkah proaktif pemerintah daerah, menurut Prasetyo, menjadi salah satu cara untuk mencegah insiden tragis yang dialami seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara, kembali berulang ke depannya.

"Kepala desa atau kepala dusun yang terus-menerus melakukan monitoring, dan melaporkan manakala ada warganya yang belum termasuk, atau belum tercatat sebagai penerima manfaat dari program-program pemerintah," kata Prasetyo Hadi menjawab pertanyaan wartawan saat jumpa pers di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu (4/2) malam.

Pras -- sapaan akrab Prasetyo -- mengatakan pemerintah daerah wajib proaktif mengecek keadaan warganya untuk menunjukkan kehadiran negara terutama bagi masyarakat yang masuk dalam kategori miskin ekstrim dan miskin.

Pras pun berjanji pemerintah akan memikirkan cara-cara untuk mencegah insiden yang terjadi di NTT itu kembali terjadi. Sejauh ini, Pras menyebut dirinya telah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti.

"Kami memastikan kalau pun belum bisa kita berdayakan secara mandiri, tetapi kehadiran atau intervensi pemerintah harus kita pastikan untuk menyentuh ke seluruh lapisan terutama yang paling bawah sehingga kejadian-kejadian seperti ini tidak terulang kembali," ujar Prasetyo Hadi.

Baca juga: Istana: Insiden siswa SD di NTT jadi atensi Presiden Prabowo

Dalam kesempatan yang sama, Pras menyatakan insiden di NTT itu pun menjadi bahan evaluasi kebijakan terkait penghapusan kemiskinan yang saat ini berjalan.

"Ini bagian dari yang harus kita evaluasi secara menyeluruh, masalah pendataan, masalah laporan, termasuk kepedulian sosial kita," ujar Pras.

Seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya, inisial MGT (usia 47 tahun).

Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:

Surat buat Mama ****
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama
”.

Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya karena ibundanya, yang merupakan orang tua tunggal, bekerja sebagai petani dan serabutan. Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.

Baca juga: Anak akhiri hidup, daerah diminta tinjau kembali implementasi KLA

Baca juga: Gubernur NTT akui kematian anak SD di Ngada adalah kegagalan Pemda

Baca juga: DPR minta Sekolah Rakyat lebih tepat sasaran cegah kasus siswa di NTT

Pewarta: Genta Tenri Mawangi, Maria Cicilia Galuh
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |