IDAI nilai kasus campak-difteri lebih darurat dibanding hantavirus

1 hour ago 2

Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai kasus sejumlah penyakit seperti campak dan difteri lebih darurat untuk ditangani oleh pemerintah dibanding hantavirus.

"Yang membuat saya prihatin bahwa saat ini rumah kita ini sudah terbakar. Kasus-kasus infeksi di Indonesia ini begitu banyaknya dan kita tidak memiliki sumber daya yang cukup dalam tanda kutip untuk mengatasinya,” kata Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI Prof. Dr. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A., Subsp.IPT., CTH dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat.

Dominicus menyoroti penyakit-penyakit itu belum ditangani secara optimal dan bahkan merebak di wilayah-wilayah tertentu dalam beberapa waktu belakangan ini.

"Sudah sekian belas tahun difteri di kita. Campak ini mulai 2-3 tahun yang lalu sampai hari ini belum tuntas juga," katanya.

Walau tidak menyebutkan data, dia menilai kasus penyakit seperti campak, difteri, tetanus, pertusis jauh lebih tinggi dibanding hantavirus yang telah ditemukan atau pernah tercatat di Indonesia.

“Maksud saya, pencegahan kita terhadap misalnya, itu menurut saya tetap lebih penting karena kita lebih banyak kasusnya. Dan fakta menunjukkan orang-orang kita itu sangat banyak yang belum terlindungi dengan memadai,” ucap Dominicus.

Baca juga: Rekomendasi IDAI untuk cegah hantavirus masuk ke Indonesia

Meski demikian, Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga itu setuju apabila penularan hantavirus tetap harus diwaspadai dengan langkah pencegahannya bisa dimulai dari menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang mudah dilakukan masyarakat secara lebih efisien dan tidak memerlukan biaya yang mahal.

Dia menyampaikan virus hanta merupakan sekelompok virus yang terutama dibawa oleh hewan pengerat (rodents) seperti tikus yang menyebabkan penyakit. Sekalipun jarang, bisa menyebabkan kematian pada manusia.

Manusia biasanya tertular melalui menghirup partikel virus di udara (airbone) dari urine tikus, feses maupun liur terutama di tempat tertutup. Melalui kulit yang terluka, penularan juga dapat terjadi walaupun kasusnya jarang.

Adapun gejala tidak langsung muncul, menurutnya, gejala akan muncul satu sampai delapan minggu setelah kontak dengan orang yang terinfeksi.

Gejala awal mencakup demam, nyeri otot dan kelelahan. Pasien juga dapat mengalami kesulitan bernapas yang parah karena adanya gangguan paru yang berat dan tekanan darah rendah.

Sejauh ini belum ada vaksin atau pengobatan khusus untuk mengatasi hantavirus. Pasien seringkali berakhir di ICU.

Baca juga: IDAI sebut hanta bukan virus baru dan bisa dicegah lewat PHBS

Baca juga: IDAI minta nakes perbaiki komunikasi dan gencar edukasi soal vaksin

Baca juga: IDAI tekankan pentingnya vaksinasi meski ASI sudah tercukupi

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |