Jakarta (ANTARA) - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menggelar Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026 sebagai langkah strategis memperkuat promosi dan daya saing industri mebel, serta kerajinan nasional di pasar global.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur dalam pernyataan di Jakarta, Kamis menyampaikan ajang yang akan berlangsung 5 hingga 8 Maret 2026 di ICE BSD, Tangerang ini menampilkan lebih dari 5.000 produk unggulan dari lebih 500 exhibitor.
Pameran ini, kata dia, membuka peluang bisnis lintas negara bagi pelaku industri nasional dan pembeli global, sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu produsen furnitur dan kerajinan unggulan dunia.
“IFEX adalah jendela utama industri furnitur Indonesia ke pasar global. Pameran ini lahir dari kebutuhan industri sendiri untuk meningkatkan kualitas produk, memperkuat desain, dan memastikan kepatuhan terhadap standar internasional,” ujarnya.
Baca juga: Purbaya kaji insentif pembiayaan furnitur lewat LPEI
Menurutnya, transformasi industri furnitur Indonesia semakin nyata melalui peningkatan craftsmanship, inovasi desain, serta kesiapan menghadapi tuntutan pasar internasional.
Ia menyampaikan, pergeseran menuju produk bernilai tambah tinggi menjadi ciri utama perkembangan industri, dengan desain sebagai faktor diferensiasi strategis dalam kompetisi global.
Sejalan dengan visi tersebut, IFEX 2026 mengusung pendekatan yang memposisikan desain furnitur tidak hanya sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai nilai ekonomi strategis yang mendorong daya saing produk Indonesia di pasar global.
Lewat ajang ini, kata dia pula, pelaku usaha tidak hanya berkesempatan melakukan transaksi bisnis, tetapi juga memperoleh perspektif strategis mengenai arah desain, tren pasar, serta standar kualitas internasional.
Baca juga: HIMKI optimistis industri furnitur jadi pilar pertumbuhan inklusif
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya asosiasi yang dipimpinnya untuk memperkuat struktur industri nasional dan meningkatkan nilai ekspor furnitur Indonesia secara berkelanjutan.
Merujuk Badan Pusat Statistik (BPS), subsektor fesyen dan kriya atau kerajinan menjadi penyumbang utama ekonomi kreatif dengan total nilai ekspor mencapai 28,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp476,3 triliun pada Januari hingga November 2025.
Masing-masing subsektor itu mencatat nilai ekspor sebesar 16,37 miliar dolar AS atau sekitar Rp274,7 triliun, dan 12,03 miliar dolar AS atau sekitar Rp201,9 triliun.
Baca juga: Industri mebel dorong penguatan Made in Indonesia dan proteksi pasar
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































