Gembira dalam remang kehidupan huntara 3x4 meter jelang Lebaran

5 hours ago 1
Dari dalam huntara yang sesak itu, dinamika keluarga ini tetap hidup melalui hal-hal kecil, seperti berbagi tawa tentang cerita-cerita lucu dari Jakarta atau sekadar memotong sayur di punggung cangkir karena talenan pun ikut hanyut dibawa banjir

Blangkejeren, Gayo Lues (ANTARA) - Dari dalam sebuah petak sempit berukuran 3x4 meter di Desa Agusen, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, terdengar tawa dan keluh berkelindan menjadi satu.

Rumah hunian sementara (huntara) itu kini menjadi saksi bagaimana sebuah keluarga besar mencoba merajut kembali sisa-sisa kebahagiaan setelah  banjir bandang  menghanyutkan segalanya pada akhir November 2025.

Bagi Ibu Hanime (61), dinding triplek dan atap seng ini adalah istana daruratnya. Di dalamnya, ia berkumpul bersama suami, Rahman (62), serta anak-anaknya yang pulang merantau, termasuk Ani (30) yang sengaja terbang dari Jakarta, Dewi (24) dari Medan dan Junaidi (32) yang di Blangkejeren, Ibu Kota Kabupaten Gayo Lues.

Ruangan itu terasa sesak, bukan hanya oleh barang-barang yang tersisa, tapi oleh kehadiran sepuluh anak dan para cucu yang mencoba merayakan kebersamaan di tengah keterbatasan ruang dan fasilitas.

Dinamika di dalam huntara menjelang hari raya ini tak lepas dari urusan air bersih. Sebuah ironi yang menyelimuti kehidupan huntara di Agusen; desa yang dulu dikenal tak pernah kekurangan air karena letaknya yang mendekap sungai jernih pegunungan Leuser itu kini justru didera krisis.

Obrolan hangat keluarga itu seringkali terinterupsi oleh gerutu tentang pipa saluran air yang mampet atau sengaja ditutup warga lain di bagian atas.

"Masalah air inilah yang paling parah," kata Ani mengeluh dengan nada getir di sela-sela aktivitas masaknya. Bagi dia, urusan dapur adalah urusan nyawa, dan tanpa air yang mengalir lancar, segalanya menjadi pelik.

Sambil bercengkerama ramai-ramai, ia menceritakan betapa ia harus menjadi "singa" hanya agar air mengalir ke bak kecilnya.

"Pipa itu seharusnya lurus, biar semua rumah dapat. Tapi yang di atas tidak sabaran. Tadi saja aku sampai ngomel, baru dihidupkan lagi. Sial banget enggak sih? Aku memang terkenal cerewet di sini demi air," kata Ani blak-blakan yang disambut tawa oleh keluarga.

Ani adalah anak ketiga Hanime yang sukses merantau di Jakarta. Dua tahun hidup berkeluarga dan bertempat tinggal di Bumi Serpong Damai (BSD) Kota Tangerang Selatan Banten. Perempuan berhidung mancung ini berhasil menjadi pengusaha krim kesehatan kulit atau skincare dan juga konten kreator media sosial kecantikan. Dari pekerjaan itulah ia bisa meringankan beban orang tua membiayai adik-adiknya yang masih kuliah.

Lalu, Ibu Hanime hanya bisa tersenyum simpul mendengar anaknya ngomel, sembari mata menyoroti cara memasak Dewi dan Ani.

Bagi dia, karakter penuh kejujuran dari sang anak adalah bentuk pertahanan diri di tengah ketidakpastian. Sambil duduk melingkar di lantai yang dialasi karpet tipis, Hani mengenang betapa hancur hatinya saat melihat rumah mereka rata dengan tanah.

"Habis! Tanahnya pun hilang, hanyut total. Tidak ada pilihan lain selain di sini," ungkap Hani dengan tatapan menerawang.

Ani menyiapkan makanan untuk berlebaran Idul Fitri di rumah hunian sementara (huntara) orang tuanya di Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh, Jumat (20/3/2026). Mereka merupakan  satu dari 279 keluarga warga Desa Agusen yang menjadi korban bencana banjir bandang pada akhir November 2025. (ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo)

Helikopter

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |