Gayo Lues menuju raya dalam rekaman mata ANTARA

4 hours ago 1
Dari Agusen, Idul Fitri tetaplah "Raya", karena ketulusan mereka jauh lebih luas daripada luka yang mereka tanggung.

Blangkejeren, Gayo Lues (ANTARA) - Suasana pedesaan selalu memiliki cara sendiri dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Ia tidak riuh oleh gemerlap lampu neon pusat perbelanjaan mewah, tidak pula disesaki etalase kaca yang menawarkan diskon besar-besaran.

Di pedalaman Gayo Lues, persiapan Lebaran cukup ditandai oleh pasar kalangan yang mendadak riuh; dipadati keranjang anyaman bambu dan wajah-wajah pedagang yang tampak lelah tapi sumringah, seolah baru terjaga dari tidur singkat demi menjemput rezeki tahunan.

Namun, justru dari ruang-ruang sederhana yang jauh dari hiruk-pikuk kota itulah, makna kemenangan sering kali terasa lebih otentik. Ada kejujuran yang terpancar dari tiap butir keringat dan jabat tangan yang erat.

Suasana inilah yang terekam jelas di Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Sebuah wilayah yang kerap dijuluki "Tanah Syurga" di Dataran Tinggi Gayo, yang meski kini sedang diuji oleh luka bencana, warganya tetap melangkah menjemput Lebaran dengan cara yang paling hangat dan bermartabat.

Jumat pagi itu, jarum jam baru saja menyentuh angka delapan. Udara pegunungan yang menusuk tulang perlahan mulai berbaur dengan hangat matahari yang malu-malu muncul dari balik rimbun hutan Leuser.

Dalam tengah kesunyian itu, sesosok pria tampak mondar-mandir sembari mendekap toa pengeras suara. Ia adalah Ramadhan, Kepala Desa Agusen, atau yang lebih akrab disapa Pengulu oleh warganya.

Ia mengumumkan agenda penting hari ini: kerja bakti, membersihkan sebidang tanah lapang yang akan dijadikan lokasi salat Idul Fitri berjamaah pada Sabtu besok.

"Setiap kepala dusun, ajak warganya! Bawa cangkul, sekop, dan ember. Kita buat tempat sujud kita nyaman besok pagi. Wajib, ya, wajib!" serunya dengan nada yang tegas tapi kebapakan.

Seruan itu bukan sekadar perintah birokrasi. Bagi warga Agusen, suara Ramadhan adalah panggilan untuk kembali merajut kebersamaan. Tim ANTARA melihat langsung bagaimana instruksi itu disambut dengan gerak cepat.

Ramadhan, Pengulu atau Kepala Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh, Jumat (20/3/2026) sibuk menyiapkan perayaan malam takbiran dan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriyah/2026 berjamaah yang akan digelar Sabtu (21/3/2026) ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo.

Anak-anak kecil berlarian riang di pematang tanpa terdistraksi gawai di tangan. Sementara kaum pria, dengan sarung yang disampirkan di bahu, mulai mengayunkan cangkul, meratakan tanah yang masih menyisakan sisa-sisa material sedimen pasca-bencana.

Di Agusen, waktu menuju Lebaran seolah melambat, memberi ruang bagi tradisi untuk bernapas. Ramadhan tidak hanya memastikan lapangan bersih, ia juga memastikan dapur warga tetap berasap.

Sementara itu tradisi malam takbiran dipersiapkan dengan saksama. Bambu-bambu hutan dipotong seukuran genggaman tangan, dibersihkan, lalu diisi beras ketan yang telah dicampur santan kental dipadatkan ke dalam selongsong bambu yang telah dilapisi daun pisang muda.

Aroma gurih santan yang mendidih di atas bara kayu kopi seketika memenuhi selasar rumahnya, menciptakan wangi khas yang hanya muncul setahun sekali.

Baca juga: Gembira dalam remang kehidupan huntara 3x4 meter jelang Lebaran

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |