Gejala stres halus yang sering tidak disadari

5 hours ago 5

Jakarta (ANTARA) - Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Teresa Indira mengatakan stres seringkali bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus dan justru gejalanya dianggap sepele karena tidak selalu bersumber dari kejadian besar.

"Seringkali stres tidak selalu muncul dalam bentuk 'merasa tertekan' atau 'sedih'. Justru yang sering terjadi, stres muncul dalam bentuk yang lebih halus dan dianggap sepele. Penting juga untuk dipahami bahwa sumber stres itu tidak selalu berasal dari kejadian besar," kata Teresa kepada ANTARA, Rabu.

Teresa menjelaskan bahwa dalam pendekatan psikologi, manusia dapat dipahami sebagai sistem yang saling berinteraksi antara pikiran, emosi, tubuh, dan perilaku. Ketika seseorang mengalami stres, tidak selalu muncul sebagai ‘pikiran stres’, tetapi bisa terlihat dari tubuh yang tegang atau perubahan perilaku.

Baca juga: Cara sederhana yang efektif untuk mengatasi stres dan kecemasan

Teresa menjelaskan, gejala stres yang sering tidak disadari misalnya mudah lelah walaupun tidak melakukan aktivitas berat, sulit fokus, jadi lebih mudah tersinggung, atau merasa “kosong” dan tidak bersemangat.

Ada juga yang muncul dalam bentuk fisik seperti sakit kepala, tegang di leher dan bahu, gangguan tidur, atau perubahan pola makan.

"Ketika seseorang mengalami stres atau tekanan emosional, tubuh akan ikut bereaksi. Misalnya jantung berdebar, napas menjadi lebih cepat, otot menegang, bahkan sistem pencernaan bisa terganggu. Jika ini berlangsung lama, bisa muncul keluhan seperti maag, sulit tidur, atau mudah lelah," katanya.

Baca juga: Kemenkes: Stress Awareness Month 2026 momen aksi nyata tangani stres

Sebaliknya, kondisi fisik juga bisa memengaruhi kondisi mental. Ketika tubuh kurang istirahat, sakit, atau kelelahan, seseorang bisa menjadi lebih sensitif secara emosional dan lebih sulit mengelola stres.

Ia juga mengatakan stres bisa membuat seseorang merasa malas dan menunda pekerjaan, karena ada pikiran seperti tidak bisa melakukan dengan baik yang akhirnya memicu kecemasan dan memilih menghindar dengan menunda pekerjaan.

Teresa mengatakan gejala stres ini bisa bersumber dari tekanan sehari-hari yang sering dianggap "biasa saja", misalnya beban pekerjaan, kemacetan, kurang tidur, tuntutan peran atau interaksi sosial yang melelahkan. Jika hal ini terjadi terus-menerus dalam rutinitas sehari-hari maka bisa menumpuk dan berdampak pada kondisi mental.

Baca juga: Berhubungan dengan orang "toxic" bisa membuat lebih cepat tua

Di sisi lain, ada juga stres yang berasal dari peristiwa besar atau signifikan, seperti putus hubungan, kehilangan orang terdekat, konflik dalam pernikahan, atau perubahan besar dalam hidup.

"Kedua jenis stres ini sama sama valid dan bisa memengaruhi seseorang," jelasnya.

Untuk membantu mengurangi stres dalam keseharian, Teresa menyarankan untuk menyadari kondisi diri dengan menghentikan sejenak pekerjaan dan menenangkan pikiran dengan cara menarik napas perlahan, peregangan ringan, atau berjalan sebentar untuk menurunkan ketegangan.

Baca juga: Kontak dengan hewan peliharaan bantu turunkan hormon stres

Selain itu, Teresa juga menyarankan untuk tidak terpaku pada pikiran negatif tentang diri sendiri dan melihatnya bukan sebagai kebenaran yang mutlak. Merayakan momen kecil yang menyenangkan di tengah hari sibuk juga bisa sebagai cara untuk menjaga kesejahteraan psikologis.

"Contohnya sederhana, tetap bisa menikmati makanan, tertawa sebentar dengan teman, atau merasa lega setelah menyelesaikan satu hal kecil. Momen momen ini terlihat kecil, tapi sangat membantu menjaga keseimbangan emosi," katanya.

Baca juga: Psikolog soroti stres yang kerap dianggap wajar di tempat kerja

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |