Jakarta (ANTARA) - Analis Politik Ekonomi dari Laboratorium Indonesia 2045 atau Lab 45 Nadia Restu Utami menilai pembagian dividen tunai sebesar Rp13,03 triliun oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menunjukkan stabilitas bank.
Menurutnya, keputusan tersebut mengindikasikan upaya menjaga keseimbangan antara memberikan imbal hasil kepada pemegang saham dan mempertahankan keberlanjutan bisnis bank.
“Dengan payout ratio sekitar 65 persen dari laba bersih, kebijakan ini memberi sinyal bahwa kinerja bank cukup kuat untuk memberikan return kepada investor,” kata Nadia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
Payout ratio sekitar 65 persen dari laba bersih itu juga masih menyisakan ruang bagi laba ditahan, yang ditujukan untuk memperkuat modal dan mendukung ekspansi bisnis bagi bank itu sendiri.
Baca juga: RUPST BNI sepakati pembagian dividen Rp13 triliun, 65 persen dari laba
Nadia menyatakan, konsistensi pembayaran dividen amat penting bagi perbankan. Sebab, hal itu bisa menjadi indikator jika bank tersebut memang dikelola secara profesional dan bisa meningkatkan kepercayaan investor dan masyarakat luas.
“Dalam sektor perbankan, konsistensi pembayaran dividen sering menjadi indikator stabilitas dan tata kelola yang baik, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang perusahaan di tengah ketidakpastian global saat ini,” tuturnya.
Sebelumnya, BNI melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp13,03 triliun.
Dividen tersebut setara 65 persen dari laba bersih konsolidasian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp20,04 triliun.
Baca juga: BNI buka Mudik Gratis BUMN 2026, berangkat 17 Maret
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, keputusan itu merupakan cermin dari komitmen Perseroan untuk tetap memberikan nilai optimal kepada pemegang saham sekaligus menjaga fundamental perusahaan melalui penguatan struktur permodalan.
“Sejumlah keputusan strategis yang disepakati dalam RUPST ini merupakan bagian dari upaya menjaga kinerja berkelanjutan serta memperkuat fondasi permodalan Perseroan ke depan,” ujar Okki.
Dalam rapat tersebut, pemegang saham juga menyetujui alokasi 35 persen laba bersih atau sekitar Rp7,01 triliun sebagai saldo laba ditahan.
Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung ekspansi bisnis serta memperkuat kapasitas permodalan BNI di tengah dinamika industri perbankan.
Baca juga: BNI siapkan uang tunai Rp23,97 T, penuhi kebutuhan transaksi Lebaran
Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































