Dokter paparkan peran akupuntur dalam tatalaksana kanker

1 week ago 9
Tetapi kalau untuk tumornya sendiri ataupun misalkan ada benjolan nah itu akupuntur bukan ranah di sana untuk pengobatannya

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis akupuntur Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Mahar Mardjono, Imtiaz A. Surapaty mengatakan akupuntur dapat meningkatkan kualitas hidup pasien kanker dengan mengurangi nyeri yang muncul sebagai efek samping pengobatan serta sebagai penanganan paliatif.

Dalam siaran oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Jakarta, Senin, Imtiaz menyebutkan pengobatan kanker, contohnya kemoterapi dan kemoradiasi, dapat menyebabkan sejumlah efek samping, seperti muntah-muntah hebat atau kelelahan. Akupuntur medis, lanjutnya, adalah untuk menangani gejala-gejala seperti itu.

"Tetapi kalau untuk tumornya sendiri ataupun misalkan ada benjolan nah itu akupuntur bukan ranah di sana untuk pengobatannya. Jadi sebaiknya memang dikombinasikan antara terapi farmakologi, yang obat, dan juga non-farmakologi," ucapnya.

Imtiaz menjelaskan pada terapi akupuntur, titik-titik tertentu yang ditusuk dengan jarum akan menghasilkan beta endorfin, sebuah senyawa yang berfungsi mengurangi rasa sakit serta meningkatkan relaksasi.

Baca juga: Akupuntur bisa jadi pilihan terapi pasien stroke

Dia menambahkan semua pasien dari berbagai rentang usia dapat mendapatkan penanganan berupa akupuntur ini, namun ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan. Selain akupuntur tersebut bukan untuk mengobati tumornya, terapi itu tidak boleh dilakukan pada saat kondisi kegawatdaruratan.

"Kemudian yang ketiga, misalkan ada pasiennya gangguan pembekuan darah itu kita tidak lakukan," katanya.

"Kalau ada demam tinggi misalkan di atas 39 atau 40 (celsius), ya itu kita tidak lakukan dahulu," ucapnya.

Sebelum terapi, dia menyarankan bagi pasien untuk makan dan tidur yang cukup agar lebih rileks saat terapi berlangsung.

Baca juga: Akupuntur dapat kurangi efek samping dan keluhan pasien kanker

Adapun terapi tersebut, katanya, sebaiknya dilakukan dua kali dalam seminggu, atau 1 seri akupuntur yakni 10 kali sesi. Namun, jika ada kendala teknis sehingga tidak bisa memenuhi 10 sesi itu, maka dapat dilakukan sebanyak 6 kali.

Lalu, katanya, terapi itu bisa dilakukan 1-7 hari sebelum kemoterapi atau kemoradiasi, agar efek samping kemoterapi tidak terlalu berat.

Sejumlah efek samping yang dapat muncul karena akupuntur, kata dia, seperti memar di sekitar titik akupuntur, rasa ngilu, serta infeksi. Namun dengan menerapkan konsep keselamatan pasien serta higienitas, infeksi dapat dihindari.

Baca juga: Akunpuntur bantu kurangi nyeri pada wanita menopause

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |