Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Najib Advani, Sp.A, Subsp.Kardio(K), M.Med(Paed) menjelaskan penyakit Kawasaki pada anak sering tidak dikenali sejak awal karena gejalanya mirip dengan sejumlah penyakit infeksi lain.
Menurut Najib, yang juga terhimpun dalam Unit Kerja Koordinasi Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu, penyakit Kawasaki umumnya ditandai demam tinggi yang berlangsung sedikitnya lima hari dan tidak membaik dengan antibiotik, disertai beberapa tanda klinis khas pada mata, mulut, kulit, dan kelenjar getah bening.
"Gejala utamanya demam menetap. Lalu mata merah tanpa kotoran (belek), bibir merah dan pecah, lidah tampak seperti stroberi, ruam di kulit, serta telapak tangan dan kaki tampak merah dan bengkak,” kata Najib dalam seminar daring yang diikuti dari Jakarta, Selasa.
Baca juga: IDAI ingatkan penyakit Kawasaki pada anak bisa picu gangguan jantung
Pembesaran kelenjar getah bening di leher juga kerap muncul pada pasien, namun, tanda-tanda tersebut tidak selalu hadir bersamaan sehingga diagnosis bisa terlewat pada pemeriksaan awal.
"Gejalanya bisa muncul bertahap, tidak selalu sekaligus. Hari ini demam, besok muncul ruam, lalu mata merah. Karena itu perlu pemantauan,” ujar Najib.
Najib mengatakan sejumlah kasus Kawasaki pada anak sempat diduga sebagai campak, infeksi virus, hingga radang usus buntu karena keluhan nyeri perut dan diare. Padahal, keterlambatan diagnosis meningkatkan risiko komplikasi pada jantung.
Dia juga menyoroti tanda khas lain yang sering terlewat, yaitu bekas suntikan vaksin BCG (Bacillus Calmette Guérin) di lengan yang tampak kembali merah dan meradang saat fase akut Kawasaki.
"Bekas BCG bisa menjadi merah dan aktif lagi. Itu petunjuk penting yang bisa dilihat langsung tanpa pemeriksaan rumit," kata Najib.
Pada fase berikutnya, kulit ujung jari tangan dan kaki dapat mengelupas. Setelah fase akut dan subakut terlewati, dapat muncul garis melintang pada kuku sebagai bagian dari fase pemulihan.
Najib mengingatkan tenaga kesehatan dan orang tua untuk mempertimbangkan Kawasaki sebagai kemungkinan diagnosis pada anak dengan demam beberapa hari disertai ruam dan mata merah tanpa kotoran, agar pasien segera mendapat pemeriksaan lanjutan jantung.
Baca juga: Apa itu penyakit kawasaki pada anak? Ini penyebab dan gejalanya
Baca juga: Ketua IDAI: Indonesia butuh tambahan 400 konsultan jantung anak
Baca juga: Studi: Kakao dapat lindungi jantung dari dampak duduk terlalu lama
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































