Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Penyakit Dalam mitra Halodoc dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD- KEMD, FINASIM mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai lonjakan kadar gula darah dan kolesterol setelah perayaan Idul Fitri.
Menurut dia, perubahan pola makan selama Lebaran menjadi faktor utama peningkatan gangguan metabolik.
“Setelah Lebaran, asupan makanan tinggi lemak, santan, gula, dan karbohidrat biasanya meningkat. Jika tidak dikontrol, kadar gula darah dan kolesterol bisa ikut naik,” kata dr. Waluyo dalam Halodoc Talks bertajuk Transitioning Safely: Managing Ramadan Health Risks During Eid Festivities di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan lonjakan asupan kalori dalam waktu singkat dapat berdampak signifikan, terutama pada individu dengan faktor risiko seperti obesitas, diabetes, atau riwayat kolesterol tinggi.
Tubuh yang sebelumnya beradaptasi dengan pola puasa dapat mengalami perubahan metabolik saat tiba-tiba menerima asupan berlebih.
Baca juga: Keluhan kesehatan mental naik 27 persen di minggu ketiga Ramadhan
Dr. Waluyo menegaskan semua makanan pada dasarnya boleh dikonsumsi, namun harus terukur. Ia mengingatkan konsep pembagian lambung menjadi tiga bagian, yakni sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk cairan, dan sepertiga untuk udara agar pencernaan tetap optimal.
“Kuncinya bukan melarang, tapi mengatur porsi. Jangan sampai semua diisi makanan. Itu yang sering memicu keluhan setelah Lebaran,” ujar dokter lulusan Universitas Gadjah Mada tersebut..
Ia juga menyoroti risiko gangguan pencernaan seperti sembelit dan diare akibat konsumsi makanan tinggi lemak dan rendah serat. Agar dapat mencegahnya, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi sayur dan buah serta menjaga kecukupan cairan.
Data Halodoc tahun 2025 menunjukkan lonjakan signifikan pemeriksaan metabolik setelah Idul Fitri. Dalam satu minggu pasca-Lebaran, jumlah tes kolesterol dan gula darah meningkat hingga 95 persen dibandingkan rata-rata mingguan periode normal. Pada minggu kedua, lonjakan masih tercatat sekitar 40 persen.
Menurut dr. Waluyo, peningkatan pemeriksaan tersebut menunjukkan kesadaran masyarakat mulai tumbuh, namun langkah pencegahan tetap perlu dilakukan sejak awal.
Ia menyarankan masyarakat kembali ke pola makan seimbang, membatasi makanan tinggi lemak dan gula, serta rutin beraktivitas fisik untuk menstabilkan metabolisme setelah masa libur panjang.
Baca juga: Maag dan vertigo jadi gangguan kesehatan paling umum saat berpuasa
Baca juga: Menurunkan Berat Badan Tanpa Cara Ekstrem, Ini yang Lebih Aman!
Baca juga: Halodoc hadirkan klinik digital Halofit bantu atasi obesitas
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































