Jakarta (ANTARA) - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Fadhil Hasan menegaskan, biodiesel, bahan bakar nabati (BBN) terbarukan pengganti solar untuk mesin diesel yang terbuat dari minyak nabati, kini menjadi bagian penting kebijakan energi lintas sektor.
"Biodiesel berperan strategis dalam swasembada energi. Sawit dan turunannya menjadi sumber energi terbarukan sekaligus mendukung ketahanan pangan," ujar dia di Depok, Jawa Barat, Kamis.
Saat memberikan pemaparan dalam Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026, dia menyatakan,sepanjang 2025 realisasi biodiesel tercatat 14,2 juta kiloliter dan berhasil mengurangi impor solar sekitar 3,3 juta kiloliter.
"Capaian tersebut memberi kontribusi langsung terhadap indeks ketahanan energi nasional," katanya dalam diskusi bertema "Dukungan Program Biodiesel Bagi Kemandirian Energi dan Perekonomian Indonesia".
Baca juga: Diplomasi sawit dan tantangan global
Program campuran saat ini, tambahnya, masih bertahan di B40 sepanjang 2026, sementara implementasi B50 masih menunggu kesiapan pasokan dan hasil uji teknis.
"Kita ingin transisi berjalan bertahap, agar suplai dan industri siap. Target akhirnya jelas, yaitu kemandirian dan kedaulatan energi," kata Fadhil.
Sementara itu Subkoordinator Pengawasan Usaha Bioenergi, Direktorat Bioenergi, Ditjen EBTKE, Kementerian ESDM Herbert Wibert Victor menyatakan, biodiesel didistribusikan melalui skema pencampuran wajib (blending) di terminal sebelum disalurkan ke SPBU dan industri.
Untuk 2026, tambahnya, kapasitas terpasang industri biodiesel mencapai 22 juta kiloliter dengan alokasi penyaluran sekitar 16,5 juta kiloliter, sedangkan realisasi 2025 mencapai hampir 15 juta kiloliter atau sekitar 96 persen dari target.
Baca juga: BRIN-swasta kembangkan malapari, perkuat ketahanan energi nasional
Menurut dia, pemerintah juga menyiapkan skema insentif berbasis selisih harga solar guna menjaga keberlanjutan program, termasuk untuk sektor pelayanan publik (PSO) dan non-PSO.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (Aprobi) Ernest Gunawan menyebut, Indonesia kini menjadi salah satu pelaksana program biodiesel terbesar di dunia, banyak negara menjadikan sebagai rujukan karena sukses menjalankan mandat campuran hingga B40 secara nasional.
"Kita sering disebut ‘big brother’ biodiesel. Skala kita paling besar di dunia," ujarnya dalam kegiatan yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bekerja sama dengan Majalah Sawit Indonesia.
Ia menambahkan, program B40 telah melibatkan sekitar 1,9 juta tenaga kerja dari hulu hingga hilir serta menghasilkan penghematan devisa sekitar Rp140 triliun pada 2025.
Baca juga: Ekonom nilai langkah menuju B50 perlu didahului evaluasi kebijakan
Aprobi menyatakan industri siap meningkatkan kapasitas menuju B50, namun implementasinya perlu dilakukan hati-hati agar tidak mengganggu pasokan bahan baku dan kebutuhan pangan.
"B40 saat ini sudah ideal dan berkelanjutan. Ke depan kita tetap optimistis, selama kebijakan disiapkan matang bersama sektor hulu,” kata Ernest.
Pengurus Bidang Komunikasi Media Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mochamad Husni menyatakan, pelaku usaha sawit siap menyukseskan kebijakan biodiesel, namun pemerintah tetap perlu berhati-hati sebelum menaikkan campuran ke B50.
“Kami tentu mendukung. Tapi perlu perhitungan matang soal ketersediaan bahan baku. Penundaan B50 mungkin bagian dari kehati-hatian itu,” ujarnya.
Baca juga: Pemerintah mengalokasikan Biodiesel 2026 sebesar 15,65 juta kiloliter
Dari sisi hulu, industri melakukan berbagai langkah peningkatan produktivitas, mulai dari kerja sama riset, peremajaan kebun (replanting), hingga inovasi penyerbukan tanaman.
Sementara itu, mewakili BPDP, Ahmad Zuhdi mengatakan, lembaganya tak hanya mendukung insentif biodiesel, tetapi juga pendidikan, riset, dan peremajaan kebun rakyat.
Pada 2025, BPDP menyalurkan sekitar 4.000 beasiswa bagi mahasiswa di seluruh Indonesia, membiayai penelitian produktivitas sawit, membantu program peremajaan perkebunan, hingga penyediaan sarana prasarana pertanian.
Untuk program biodiesel BPDP menanggung selisih harga antara solar dan biodiesel sebagai insentif. Hingga akhir 2025, dukungan untuk sektor PSO mencapai 6,9 juta kiloliter dengan nilai sekitar Rp35,5 triliun.
Baca juga: Bahlil: Swasembada energi dimulai dari potensi daerah
"Dana ini berasal dari pungutan ekspor sawit dan dikelola kembali untuk mendukung keberlanjutan industri," katanya.
Menurut dia, dengan dukungan kebijakan, industri, dan pendanaan, biodiesel sawit dinilai menjadi solusi konkret bagi ketahanan energi nasional. Selain mengurangi impor, program ini menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah, tenaga kerja, hingga upaya penurunan emisi.
Pewarta: Subagyo
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































