Jakarta (ANTARA) - Jukut goreng merupakan salah satu olahan sayuran yang populer dalam hidangan khas Sunda. Meski bahan dasarnya adalah selada air yang kaya mineral, vitamin serta serat, cara pengolahan jukut yang digoreng dalam minyak banyak dapat memengaruhi kandungan gizi dan jumlah lemak yang dikonsumsi.
Meski rasanya sedap apalagi bila dikonsumsi bersama dengan lauk lainnya, nasi panas dan sambal, jukut dapat memengaruhi kesehatan, mengingat tata cara mengolahnya yang menggunakan banyak minyak goreng. Berikut ini adalah dampak jukut goreng bagi kesehatan.
Baca juga: Cara makan gorengan dengan sehat dan terlepas dari rasa khawatir
Baca juga: Memulai hari tanpa gorengan, makanan kukus-rebus kian diminati
1. Menambah asupan lemak dan kalori
Sayuran pada dasarnya merupakan bagian dari pola makan sehat. Namun, proses menggoreng membuat makanan menyerap minyak sehingga kandungan lemak dan kalorinya dapat meningkat.
Konsumsi makanan yang digoreng secara sering juga perlu diperhatikan. Sebuah meta-analisis terhadap sejumlah penelitian menemukan bahwa konsumsi makanan gorengan dalam jumlah tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular. Namun, penelitian tersebut bersifat observasional sehingga hubungan tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai hubungan sebab-akibat.
2. Berpotensi meningkatkan risiko berat badan berlebih
Kalori dari minyak dapat membuat total energi dalam makanan meningkat. Jika asupan energi secara konsisten lebih besar daripada yang digunakan tubuh, berat badan dapat bertambah.
Tinjauan penelitian mengenai makanan gorengan juga menemukan bahwa konsumsi gorengan yang tinggi kemungkinan berkaitan dengan peningkatan risiko kenaikan berat badan.
3. Kandungan zat gizi dapat berubah akibat pemanasan
Proses memasak pada dasarnya dapat mengubah sejumlah kandungan zat gizi dalam bahan makanan. Tingkat perubahan bergantung pada jenis sayuran, suhu, lama pemasakan dan metode yang digunakan.
Karena itu, menggoreng sayuran tidak berarti seluruh nutrisinya hilang. Namun, semakin lama dan tinggi suhu pemasakan, semakin besar kemungkinan terjadi perubahan pada beberapa komponen gizi.
Baca juga: Setop konsumsi gorengan jadi langkah awal atasi jerawat saat Lebaran
4. Minyak yang digunakan dapat berpengaruh
Dampak kesehatan jukut goreng tidak hanya ditentukan oleh sayurannya, tetapi juga jenis dan kondisi minyak yang digunakan.
Penelitian mengenai makanan gorengan menunjukkan bahwa jenis minyak, suhu, lama penggorengan dan penggunaan minyak berulang merupakan faktor yang dapat memengaruhi karakteristik makanan serta potensi dampaknya terhadap kesehatan.
Karena itu, penggunaan minyak yang sudah berulang kali dipanaskan sebaiknya dihindari.
5. Bisa menjadi sumber senyawa dari hasil pemanasan
Pengolahan makanan pada suhu tinggi dapat menghasilkan senyawa tertentu. Salah satunya adalah akrilamida yang menjadi perhatian dalam keamanan pangan. Pembentukannya terutama berkaitan dengan pemanasan makanan tertentu yang mengandung karbohidrat pada suhu tinggi.
Namun, tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap jukut goreng otomatis mengandung akrilamida dalam jumlah berbahaya. Pembentukan senyawa tersebut dipengaruhi oleh jenis bahan dan kondisi pemasakan.
Apakah jukut goreng harus dihindari?
Tidak harus. Sayuran tetap dapat menjadi bagian penting dari pola makan sehari-hari. Persoalannya lebih pada frekuensi, jumlah minyak dan metode pengolahan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam panduan pola makan sehat menyarankan metode seperti mengukus atau merebus sebagai alternatif untuk mengurangi asupan lemak dibandingkan menggoreng, serta menganjurkan pembatasan konsumsi makanan yang digoreng.
Baca juga: Studi temukan kentang goreng beresiko tingkatkan kecemasan dan depresi
Bagi masyarakat yang tetap ingin mengonsumsi jukut goreng, beberapa hal dapat diperhatikan:
1. Gunakan minyak secukupnya
Semakin banyak minyak yang terserap, semakin tinggi pula tambahan lemak dan kalori.
2. Hindari minyak yang digunakan berulang kali
Minyak yang sudah mengalami pemanasan berulang dapat mengalami perubahan kualitas.
3. Jangan menggoreng terlalu lama
Masak hingga matang tanpa membuat sayuran terlalu gosong.
4. Perhatikan porsi
Jukut goreng sebaiknya menjadi bagian dari makanan, bukan satu-satunya sumber sayuran.
5. Imbangi dengan makanan yang tidak digoreng
Sayuran rebus, kukus atau segar dapat menjadi alternatif agar pola makan lebih beragam.
Jukut goreng tidak otomatis menjadi makanan yang tidak sehat hanya karena digoreng. Dampaknya sangat dipengaruhi jenis sayuran, jumlah minyak, teknik pengolahan dan seberapa sering makanan tersebut dikonsumsi.
Yang perlu diperhatikan adalah konsumsi gorengan secara berlebihan. Bukti penelitian menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi makanan gorengan yang lebih sering dengan sejumlah risiko kesehatan, terutama terkait penyakit kardiovaskular dan kenaikan berat badan.
Dengan demikian, jukut tetap dapat dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan seimbang. Namun, jika ingin mendapatkan manfaat sayuran dengan tambahan lemak yang lebih sedikit, metode seperti merebus, mengukus atau menumis dengan sedikit minyak dapat menjadi pilihan.
Baca juga: Makan gorengan saat berbuka berdampak negatif pada organ tubuh
Baca juga: Berbuka dengan gorengan? Ini dampaknya bagi kesehatan
Baca juga: Hindari daging dan gorengan setelah Lebaran supaya kolesterol terjaga
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































