Busyro Muqoddas: Verifikasi dan independensi kunci etika jurnalisme

4 hours ago 1

Surabaya (ANTARA) - Wakil Ketua Dewan Pers Busyro Muqoddas menekankan pentingnya verifikasi, independensi, dan keberpihakan pada etika dalam praktik jurnalistik.

Ia mengemukakan hal itu saat memberikan sambutan pada kegiatan penyegaran penguji Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar secara daring di Jakarta, Selasa.

Menurutnya, menjaga keseimbangan antara kecepatan pemberitaan dan pertimbangan etika merupakan tantangan sekaligus kewajiban bagi wartawan.

Busyro menyampaikan bahwa profesi wartawan tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab etika yang bersumber pada nilai-nilai dasar kehidupan bernegara.

Ia menegaskan bahwa etika jurnalistik harus menjadi pijakan utama dalam setiap proses produksi berita.

"Menjaga keseimbangan antara kesempatan menyampaikan berita dengan mempertimbangkan etika adalah tantangan sekaligus kewajiban. Tidak mudah, tetapi harus dijalankan," ujarnya.

Menurut Busyro, salah satu prinsip utama dalam praktik jurnalistik adalah proses verifikasi yang ketat. Ia mengingatkan para wartawan agar memastikan setiap informasi telah melalui penelusuran yang memadai sebelum dipublikasikan.

"Lebih baik sedikit terlambat daripada salah selamanya," katanya.

Selain verifikasi, Busyro juga menekankan pentingnya prinsip independensi dan keseimbangan dalam pemberitaan. Wartawan harus menghindari konflik kepentingan serta memberikan ruang bagi semua pihak untuk menyampaikan tanggapan agar berita tetap berimbang.

Baca juga: Ketua Dewan Pers: Pers harus perkuat kritik sosial berbasis data

Ia juga mengingatkan pentingnya empati dalam praktik jurnalistik, terutama ketika meliput kelompok rentan. Wartawan diminta menjaga martabat narasumber dan menghindari pemberitaan yang sensasional.

Pada kesempatan itu, Busyro menegaskan bahwa fungsi pers sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pers adalah sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, serta kontrol sosial. Karena itu, pers memiliki peran penting dalam menjaga kualitas demokrasi.

Ia menambahkan praktik demokrasi di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius sehingga peran pers sebagai pengawas kekuasaan menjadi semakin penting.

Busyro juga mengusulkan penguatan kolaborasi antara komunitas pers dengan berbagai elemen masyarakat sipil, termasuk perguruan tinggi.

Menurutnya, kerja sama dengan kalangan akademisi dapat memperkuat kajian kritis terhadap berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, maupun kebijakan publik.

"Kolaborasi dengan kampus dan masyarakat sipil penting untuk memperkuat fungsi kontrol sosial pers sekaligus memperkaya perspektif dalam kerja jurnalistik," katanya.

Kegiatan penyegaran penguji UKW ini diikuti para penguji dari berbagai lembaga. Forum tersebut menjadi ajang untuk memperbarui pemahaman para penguji terkait standar kompetensi, etika profesi, serta tantangan dunia pers di tengah dinamika demokrasi dan perkembangan teknologi informasi.

Penyegaran ini digelar secara daring oleh Lembaga Uji UKW Universitas Muhammadiyah Jakarta, Solopos Institute, Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta,

Baca juga: Ketua Dewan Pers: Pers tetap jadi rujukan publik di tengah medsos

Baca juga: Dewan Pers ajak insan pers untuk lebih banyak sampaikan suara rakyat

Pewarta: Agus Setiawan
Editor: Didik Kusbiantoro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |