Jakarta (ANTARA) - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat biaya dana (cost of fund) pada triwulan I 2026 membaik ke level 2,3 persen dibandingkan posisi triwulan I 2025 sebesar 3 persen, ditopang oleh dominasi dana murah (CASA).
“Ini menunjukkan efektivitas strategi BRI dalam memperkuat CASA dan mengelola struktur pendanaan yang lebih efisien, sehingga memberikan ruang yang lebih baik bagi margin ke depan,” kata Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.
Hingga akhir Maret 2026, perseroan menghimpun dana pihak ketiga (DPK) dengan pertumbuhan sebesar 9,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp1.555 triliun.
Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan dana murah (current account saving account/CASA) BRI yang naik 13,2 persen (yoy) menjadi Rp1.058,6 triliun.
Hery menambahkan bahwa giro dan tabungan tercatat tumbuh double digit dengan masing-masing tumbuh 15,6 persen (yoy) dan 11,5 persen (yoy).
“Angka tersebut juga menandai tonggak penting bagi BRI, di mana untuk pertama kalinya dalam sejarah, pencapaian tabungan BRI berhasil menembus level Rp600 triliun, atau tepatnya mencapai Rp605,8 triliun,” ujar dia.
Selanjutnya, peningkatan CASA tersebut mendorong rasio CASA BRI mencapai 68,07 persen, dari 65,77 persen pada periode yang sama pada tahun lalu.
Rasio CASA yang dominan ini, catat perseroan, sejalan dengan semakin tingginya volume transaksi melalui berbagai kanal digital seperti BRImo, Qlola by BRI, Business Merchant, dan QRIS BRI.
Perseroan menyampaikan bahwa penguatan struktur pendanaan tersebut turut menopang kinerja keuangan secara keseluruhan.
Hingga triwulan I 2026, total aset perseroan tumbuh 7,2 persen (yoy) menjadi Rp2.250 triliun, yang didukung oleh pertumbuhan kredit dan pembiayaan sebesar 13,7 persen (yoy) menjadi Rp1.562 triliun.
Dengan fundamental yang kuat serta efisiensi biaya dana yang terus terjaga, perseroan membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp15,5 triliun atau tumbuh 13,7 persen (yoy)
“Pertumbuhan ini mencerminkan kemampuan BRI dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan pengelolaan biaya dana yang semakin efisien,” kata Hery.
Ia menambahkan bahwa pada satu sisi, pertumbuhan kredit yang tetap kuat memberikan dorongan terhadap pendapatan bunga. Sementara di sisi lain, perbaikan struktur pendanaan (funding), khususnya peningkatan CASA, turut menekan biaya dana.
“Secara keseluruhan, BRI tidak hanya tumbuh, namun juga mampu menjaga kualitas pertumbuhan,” tutup Hery.
Baca juga: BRI: Penawaran KUR lewat tautan tidak resmi merupakan modus penipuan
Baca juga: Transaksi debit tanpa sentuh BRI melonjak 1.144 persen
Baca juga: BRI: UMKM topang ketahanan bisnis di tengah gejolak global
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































