Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksikan produksi padi pada November 2025 diperkirakan mencapai 3,2 juta ton gabah kering giling (GKG).
"Produksi padi November 2025 diperkirakan mencapai 3,2 juta ton GKG, atau meningkat sebesar 2,83 persen dibandingkan November tahun lalu," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini di Jakarta, Senin.
Potensi produksi padi Desember 2025–Februari 2026 diperkirakan mencapai 10,81 juta ton GKG, atau meningkat sebesar 32,58 persen dibandingkan Desember 2024–Februari 2025.
Dengan demikian, potensi produksi padi Januari–Desember 2025 diperkirakan mencapai 60,25 juta ton GKG, atau meningkat sebesar 13,37 persen dibandingkan Januari–Desember 2024.
Angka sementara dan potensi produksi dapat berubah sesuai kondisi terkini hasil amatan lapangan seperti: serangan hama - organisme pengganggu tanaman (OPT), banjir, kekeringan, waktu realisasi panen petani, dan lain-lain.
Sementara itu, luas panen padi November 2025 sebesar 0,57 juta hektare, atau meningkat sebesar 3,56 persen dibandingkan November tahun 2024.
Sedangkan potensi luas panen padi 3 bulan setelahnya (Desember 2025–Februari 2026) diperkirakan mencapai 2 juta hektare, atau meningkat sebesar 30,7 persen dibandingkan Desember 2024–Februari 2025.
Dengan demikian, potensi luas panen padi sepanjang Januari–Desember 2025 diperkirakan mencapai 11,33 juta hektare, atau meningkat sebesar 12,80 persen dibandingkan Januari–Desember 2024.
Angka potensi luas panen dapat berubah sesuai kondisi terkini hasil amatan lapangan seperti: serangan hama-OPT (organisme pengganggu tanaman), banjir, kekeringan, waktu realisasi panen petani, termasuk juga akibat bencana pada tiga provinsi di Sumatera Utara dan lain-lain.
Sebagai informasi, program optimasi lahan yang dijalankan pemerintah untuk mendorong peningkatan produktivitas padi melalui kenaikan indeks pertanaman di lahan sawah eksisting untuk memperkuat upaya swasembada beras nasional.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Hermanto mengatakan optimasi lahan menjadi strategi utama meningkatkan produksi tanpa membuka lahan baru.
Ia menjelaskan optimasi lahan dilakukan melalui perbaikan infrastruktur pertanian, termasuk penyusunan Survei, Investigasi, dan Desain (SID) pembangunan serta rehabilitasi tanggul, pintu air, dan jaringan irigasi maupun drainase di tingkat usaha tani.
Baca juga: Outlook perberasan 2026, antara produksi dan tuntutan transformasi
Baca juga: Mentan lapor ke Presiden produksi beras 2025 naik 4,1 juta ton
Baca juga: Kolaborasi Indonesia-UE dorong efisiensi produksi beras rendah karbon
Pewarta: Aji Cakti
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































