PBB (ANTARA) - Puing-puing misil dan drone yang berjatuhan, ruang udara terbatas, serta aksi permusuhan menyebabkan meningkatnya korban sipil, merusak infrastruktur, dan mengganggu berbagai layanan penting di Timur Tengah, kata badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (3/3).
"Operasi kemanusiaan di seluruh kawasan tersebut terdampak parah oleh ketidakamanan, gangguan rantai pasok, dan penutupan ruang udara," kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA).
OCHA menyatakan bahwa di Iran, pihak berwenang setempat dan Perhimpunan Bulan Sabit Merah Iran (Iranian Red Crescent Society) melaporkan serangan-serangan yang dilancarkan sejak Sabtu (28/2) berdampak pada lebih dari 1.000 lokasi, mengakibatkan sekitar 790 kematian dan hampir 750 korban luka. Beberapa serangan dilaporkan menghantam sejumlah area permukiman padat penduduk, menunjukkan kerusakan pada infrastruktur sipil.
Stephane Dujarric, juru bicara (jubir) utama Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres, mengatakan kepada para pewarta dalam konferensi pers rutin pada Senin (2/3) bahwa Guterres memantau situasi ini dengan keprihatinan yang mendalam.
"Dia sangat khawatir tentang munculnya berbagai front baru. Kami juga menyaksikan peningkatan jumlah korban sipil dan dampak kemanusiaan yang parah terhadap kesejahteraan masyarakat di seluruh kawasan itu," katanya.
Dujarric mengatakan serangan terus-menerus terhadap infrastruktur energi di Teluk dapat berdampak dramatis pada ekonomi global, yang masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil.
Menurut jubir tersebut, Guterres menilai aktivitas di sepanjang Garis Biru (Blue Line) Israel-Lebanon, yang dijaga oleh pasukan penjaga perdamaian PBB di kawasan tersebut, Pasukan Sementara PBB di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL), sangat mengkhawatirkan.
"Dalam dua hari terakhir, pasukan penjaga perdamaian UNIFIL kami mencatat puluhan roket dan misil yang ditembakkan ke Israel yang diklaim oleh Hizbullah, serta beberapa serangan udara dan insiden penembakan dari selatan Garis Biru oleh Israel ke Lebanon," kata Dujarric.
Terlepas dari memburuknya situasi di kawasan tersebut, OCHA mengatakan pihak berwenang Israel membuka kembali perlintasan perbatasan Kerem Shalom/Karem Abu Salem pada Selasa untuk masuknya 500.000 liter bahan bakar dan bantuan kemanusiaan yang tiba melalui Israel dan Mesir.
OCHA menyatakan sekitar 300.000 liter bahan bakar per hari diperlukan untuk mempertahankan operasi kemanusiaan yang krusial di Gaza, sehingga sangat penting agar pasokan bahan bakar terus masuk secara konsisten hingga solusi jangka panjang untuk memasok listrik ke Gaza terjamin. Pelintasan Rafah dan Zikim masih ditutup, dan rotasi staf kemanusiaan internasional masih dihentikan.
Di Tepi Barat, OCHA menyatakan bahwa pasukan Israel terus menutup sebagian besar pos pemeriksaan, sangat membatasi kebebasan bergerak warga Palestina serta kemampuan mereka untuk mengakses layanan dan mata pencaharian. Hal ini juga memengaruhi kemampuan mitra kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan dan menjalankan operasional mereka.
OCHA menyatakan bahwa pada Senin, pemukim Israel menewaskan dua warga dan melukai tiga warga Palestina lainnya saat menyerbu Desa Qaryut di Nablus.
"Dampak kemanusiaan akibat eskalasi kekerasan di Timur Tengah semakin mengkhawatirkan," kata Tom Fletcher, under-secretary-general PBB untuk urusan kemanusiaan dan koordinator bantuan darurat.
Fletcher mengatakan OCHA meningkatkan operasi di lokasi yang memerlukan dan memungkinkan, mengaktifkan rencana cadangan di seluruh Iran dan kawasan tersebut, termasuk Lebanon, wilayah Palestina yang diduduki, Suriah, dan Yaman.
"Keterbatasan kehadiran lembaga swadaya masyarakat internasional dan ruang operasional di Iran membuat tantangan di sana menjadi lebih besar," kata Fletcher dalam pernyataan yang dirilis di New York pada Selasa.
"Penghormatan terhadap hukum kemanusiaan internasional kembali diuji dan terkikis. Setiap kali infrastruktur sipil terkena serangan, akses dibatasi, dan bantuan dipolitisasi, ruang untuk aksi kemanusiaan menyempit, sehingga semakin sulit menjangkau komunitas yang kami layani," ujarnya.
Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































