BPOM bangun kemandirian obat nasional dengan asistensi regulatori

4 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengadakan asistensi regulatori secara intensif guna memperkuat pemahaman pelaku usaha mengenai regulasi serta mendorong kemandirian dalam produksi obat dan bahan obat dalam negeri.

Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam keterangan diterima di Jakarta, Rabu, menyatakan pengawasan obat bukan hanya soal penegakan aturan, tetapi juga membangun kolaborasi yang erat antara regulator dan industri.

"Obat merupakan kebutuhan dasar. Obat juga menjadi bagian dari kemandirian nasional kita," kata dia.

Pihaknya memberikan sejumlah asistensi dalam kegiatan itu, antara lain desk registrasi dan forum komunikasi registrasi obat, desk regulasi dan Sistem Informasi Standar Obat (SISOBAT) dalam hal mutu obat dan bahan obat, desk evaluasi iklan obat, penandaan obat beredar, dan pengawasan fasilitas bersama obat.

Sebagai wujud komitmen mendukung industri farmasi nasional, BPOM juga memberikan berbagai sertifikat dan persetujuan kepada pelaku usaha yang telah memenuhi standar regulasi.

Sertifikat tersebut, termasuk dua sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) untuk fasilitas produksi radiofarmaka, satu sertifikat CPOB untuk industri garam farmasi, dan empat sertifikat CPOB untuk industri farmasi, lima sertifikat CPOB kepada Pedagang Besar Farmasi (PBF) di Jawa Timur, satu persetujuan izin edar untuk obat inovatif, dan 15 persetujuan izin edar untuk obat generik yang telah dievaluasi sebelumnya dan memenuhi persyaratan.

Di antara seluruh sertifikat yang diberikan pihaknya pada kegiatan ini, beberapa hal menjadi tonggak perkembangan industri farmasi nasional, salah satunya RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung menjadi RS pertama yang menerima sertifikat CPOB untuk produksi radiofarmaka berbasis generator Radionuklida Galium-68.

Selain itu, PT Bio Farma menjadi industri farmasi pertama yang memperoleh sertifikat CPOB untuk produksi radiofarmaka dengan Radionuklida F18 berbasis siklotron.

Pihaknya juga memberikan sertifikat CPOB kepada PT Unichemcandi Indonesia guna meningkatkan kapasitas produksi garam farmasi nasional.

BPOM akan terus menjalin sinergi dengan pelaku usaha guna memastikan bahwa obat yang beredar di Indonesia tidak hanya memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu, tetapi juga berkontribusi terhadap kemandirian farmasi nasional.

Kegiatan asistensi tersebut berlangsung (24-27 Februari 2025), diikuti 135 peserta secara luring, mencakup perwakilan industri farmasi, industri farmasi lembaga Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan PBF di area Jawa Timur.

Baca juga: BPOM fasilitasi izin edar produk pangan olahan UMKM

Baca juga: BPOM dukung perusahaan farmasi produksi obat biologis demi kemandirian

Baca juga: BPOM dorong industri farmasi manfaatkan potensi bahan herbal

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |