Jakarta (ANTARA) - Platform perdagangan aset keuangan digital, Bittime menilai hasil negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang berpotensi mempengaruhi arah pasar global dalam waktu dekat.
Hasil negosiasi dapat menjadi katalis penting bagi pergerakan berbagai instrumen investasi di tengah ketidakpastian geopolitik dan sikap hati-hati Bank Sentral AS.
“Pasar saat ini berada dalam fase menunggu kepastian. Apa pun hasil negosiasi AS-Iran nantinya dapat menjadi katalis yang mendorong pergerakan signifikan di berbagai instrumen investasi global,” ujar Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn dalam keterangannya, di Jakarta, Rabu.
Selain negosiasi AS-Iran, sentimen pasar juga dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Israel melancarkan serangan ke Lebanon.
Di sisi lain, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru. Kondisi ini membuat pelaku pasar masih menunggu arah kebijakan moneter AS berikutnya.
Kombinasi berbagai sentimen tersebut turut mempengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk aset kripto dan indeks saham AS.
Berdasarkan data CoinMarketCap per 23 Juni 2026, harga Bitcoin berada di level 62.300 dolar AS, turun 3,94 persen dalam 24 jam terakhir dan melemah 6,58 persen dalam sepekan.
Koreksi tersebut mencerminkan meningkatnya sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global.
Sementara di pasar saham AS, pergerakan indeks menunjukkan respons yang beragam. Nasdaq turun 1,32 persen, S&P 500 melemah 0,37 persen, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,30 persen. Sementara itu, NYSE Composite menguat 0,41 persen.
Menurut Ryan, meningkatnya ketidakpastian pasar memang dapat memicu volatilitas, namun pada saat yang sama juga membuka peluang bagi investor yang mampu membaca momentum dengan tepat.
“Ketika ketidakpastian meningkat, volatilitas biasanya ikut naik. Namun kondisi seperti ini juga dapat menciptakan peluang bagi investor untuk mengidentifikasi titik masuk yang lebih menarik sesuai dengan strategi dan profil risikonya,” katanya pula.
Di tengah perkembangan pasar tersebut, Ryan menyoroti tokenized US stocks sebagai salah satu inovasi di sektor aset digital. Instrumen ini memungkinkan representasi saham-saham AS dalam bentuk token yang diperdagangkan melalui jaringan blockchain.
“Investor yang ingin mendapatkan eksposur ke saham Amerika Serikat tanpa harus memiliki aset secara langsung dapat mempertimbangkan tokenized US stocks, yang memungkinkan akses lebih fleksibel terhadap pergerakan saham global dalam satu ekosistem investasi,” ujarnya.
Ryan menambahkan, pasar saham AS masih menjadi salah satu instrumen yang banyak diperhatikan investor global, karena didukung kinerja perusahaan teknologi besar serta prospek ekonomi AS yang relatif stabil.
Sejalan dengan tren tokenisasi aset yang berkembang secara global, Bittime menghadirkan berbagai aset berbasis real-world assets (RWA) seperti Tether Gold (XAUT), Silver Token (SLVON), SP500 Tokenized ETF (SPYX), Nasdaq Tokenized ETF (QQQX), serta Tokenized US Stocks seperti Tesla (TSLAX), Alphabet (GOOGLX),Apple (AAPLX), dan Nvidia (NVDAX) yang memberikan akses lebih luas bagi investor
“Melalui beragam pilihan tokenized US stocks yang tersedia, investor Indonesia memiliki lebih banyak alternatif untuk memperoleh eksposur terhadap perusahaan-perusahaan global terkemuka,” kata Ryan.
Baca juga: IHSG melesat awal pekan ke 6.118, dipicu kesepakatan damai AS-Iran
Baca juga: Trump desak gencatan senjata menyeluruh di kawasan Timur Tengah
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































