APTRI nilai SGN-Danantara dan PIR beri harapan baru penyerapan gula

3 months ago 31

Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menilai langkah PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Danantara dan PT Pesona Inti Rasa dalam menyerap gula petani memberi harapan baru bagi stabilisasi pasar sekaligus peningkatan kesejahteraan petani tebu nasional.

"Atas penyerapan gula petani yang telah dilakukan, petani melalui APTRI menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya," kata Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APTRI Sunardi Edy Sukamto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, musim giling tebu 2025 memberikan catatan khusus bagi seluruh pemangku kepentingan industri pergulaan nasional.

Ia mengatakan proses giling tebu yang dimulai sejak Mei 2025 secara nasional hingga kini masih berlangsung. Hasil produksi berupa gula kristal putih (GKP) dan tetes tebu tahun ini milik petani masih menumpuk.

Meskipun produksi meningkat dan sudah mendekati target swasembada gula konsumsi, penyerapan pasar masih lemah. Kondisi itu dipicu oleh adanya rembesan gula rafinasi yang langsung di jual ke pasar konsumsi, sehingga gula hasil giling petani sulit terserap.

"Hampir setiap lelang gula petani sepi penawaran, mengakibatkan ketidakpastian harga dan pendapatan," kata Edy, menjelaskan.

Menurut dia, beruntung sejumlah langkah strategis telah dilakukan dengan dukungan pemerintah dan swasta, salah satunya dari PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) turut serta melakukan penyerapan pada petani.

Selain itu pemerintah melalui Danantara menggelontorkan anggaran sebesar Rp1,5 triliun, dengan alokasi Rp900 miliar untuk gula petani di bawah PT SGN (62.141 ton), sampai dengan saat ini sudah terealisasi 21.500 ton.

Lalu, ada PT Pesona Inti Rasa atau PIR (GulaVit) yang, menurut Edy, melakukan penyerapan gula petani secara konsisten, sebagaimana yang dilakukan seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Termasuk para pedagang yang turut melakukan penyerapan melalui lelang rutin di Jawa Timur," katanya.

Kendati demikian Edy berharap agar pemerintah serius mengawal hilirisasi gula dan tetes tebu sebagai bagian vital program percepatan swasembada gula nasional. Ia mendorong agar ID Food memperkuat penyerapan gula sehingga pedagang ikut semangat menyerap sisa produksi petani.

Berdasarkan kesepakatan di Badan Pangan Nasional (Bapanas), serapan 83.000 ton tahap pertama serapan oleh ID Food dan pedagang harus tuntas. Setelah itu, sisa produksi berikutnya sepenuhnya diambil pedagang.

"Jika ID Food tidak segera menuntaskan kuota Rp900 miliar untuk petani tebu di bawah PT SGN dalam pekan ini, maka swasembada akan sulit,” kata Edy.

Selain gula, lanjutnya, keresahan petani juga terkait harga tetes tebu yang anjlok, ujar dia. Dampak dari pembebasan bea masuk impor molases membuat harga tetes jatuh dari Rp2.700–3.000 per kg pada 2024, kini hanya Rp900–1.200 per kg. Kondisi itu menekan pendapatan petani secara signifikan.

APTRI mengharapkan industri pergulaan nasional semakin baik sehingga persoalan serapan gula tidak terulang, serta memberikan kepastian bagi petani agar lebih bergairah menanam tebu pada musim berikutnya.

“Kami (APTRI) mengucapkan apresiasi dan terima kasih pada pihak yang telah melakukan penyerapan gula petani, khususnya pada pemerintah melalui Danantara, PT SGN, Gulavit dan pedagang yang berada di Jawa Timur, sehingga kontribusi ini bisa terus membantu keberlangsungan bersama,” kata Edy.

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |